KONTAN.CO.ID - Pasar modal Indonesia menawarkan berbagai instrumen investasi yang semakin beragam untuk memenuhi kebutuhan diversifikasi portofolio.
Salah satu instrumen yang kian populer di kalangan investor adalah Exchange Traded Fund (ETF). Secara sederhana, ETF merupakan produk investasi yang menggabungkan karakteristik reksa dana dengan fleksibilitas saham.
Mengutip dari situs Bursa Efek Indonesia (BEI), ETF adalah kontrak investasi kolektif yang unit penyertaannya dicatatkan dan diperdagangkan di bursa layaknya saham.
Baca Juga: Portofolio Aman: Strategi Jitu Pilih Instrumen Digital Anti-Rugi untuk Pemula
Investor dapat membeli dan menjual ETF melalui perusahaan efek selama jam perdagangan bursa berlangsung. Karakteristik ini memberikan keunggulan berupa transparansi harga secara real-time, berbeda dengan reksa dana konvensional yang Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unitnya baru diketahui di akhir hari perdagangan.
Meskipun sekilas mirip dengan reksa dana, mekanisme perdagangan ETF memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Investor perlu memahami ekosistem instrumen ini sebelum memutuskan untuk mengalokasikan dana.
Perbedaan Utama ETF dan Reksa Dana
Melansir dari BNI Sekuritas, perbedaan mendasar antara ETF dan reksa dana terletak pada tempat transaksi dan biaya yang timbul.
Reksa dana konvensional biasanya dibeli atau dijual kembali melalui Manajer Investasi atau agen penjual, sementara ETF ditransaksikan langsung melalui broker di bursa.
Berikut adalah beberapa poin perbedaan krusial antara keduanya:
- Waktu Transaksi: ETF dapat diperdagangkan setiap saat selama jam bursa, sedangkan reksa dana hanya sekali sehari berdasarkan harga penutupan.
- Biaya Transaksi: Transaksi ETF dikenakan biaya komisi broker layaknya saham, sedangkan reksa dana melibatkan biaya langganan (subscription) atau biaya penebusan (redemption).
- Minimum Investasi: Reksa dana sering kali menentukan nominal rupiah tertentu sebagai batas minimal, sementara ETF menggunakan satuan lot (100 unit penyertaan).
- Transparansi Portfolio: Portofolio dalam ETF biasanya dipublikasikan secara harian, sehingga investor mengetahui persis aset apa saja yang mendasari instrumen tersebut.
Keunggulan Berinvestasi di ETF
Melansir Maybank, ETF menawarkan efisiensi bagi investor yang ingin melakukan diversifikasi secara instan.
Dengan membeli satu unit ETF yang berbasis indeks tertentu, investor secara otomatis memiliki eksposur terhadap seluruh saham yang ada dalam indeks tersebut. Hal ini membantu memitigasi risiko jika salah satu emiten dalam indeks mengalami penurunan performa.
Selain itu, biaya pengelolaan (management fee) ETF cenderung lebih rendah dibandingkan dengan reksa dana saham aktif.
Hal ini dikarenakan sebagian besar ETF bersifat pasif, yakni hanya mengikuti pergerakan indeks acuan tanpa memerlukan analisis mendalam dari Manajer Investasi untuk memilih saham secara individual.
Mekanisme Pasar: Primer dan Sekunder
Salah satu aspek teknis yang perlu dipahami adalah adanya dua jenis pasar dalam perdagangan ETF.
Berdasarkan penjelasan Bursa Efek Indonesia, pasar primer diperuntukkan bagi investor institusi atau pemegang modal besar (Dealer Partisipan) dengan satuan transaksi dalam unit kreasi (umumnya 100.000 unit penyertaan).
Tonton: AHY Akan Bentuk Komite Nasional Bereskan Utang Kereta Cepat
Bagi investor ritel, transaksi dilakukan di pasar sekunder. Di sini, investor dapat membeli ETF dalam satuan lot melalui aplikasi trading saham dengan harga yang ditentukan oleh mekanisme pasar.
Kehadiran Dealer Partisipan di pasar primer berfungsi menjaga likuiditas dan memastikan harga ETF di pasar sekunder tetap dekat dengan nilai fundamentalnya.
Tips Memulai Investasi ETF
Bagi investor yang tertarik mencoba instrumen ini, diperlukan strategi yang matang agar mendapatkan hasil optimal. Berikut adalah beberapa langkah dan tips yang bisa diterapkan:
- Pahami Indeks Acuan: Sebelum membeli, pelajari indeks yang diikuti oleh ETF tersebut, seperti IDX30, LQ45, atau indeks sektoral lainnya. Pastikan konstituen di dalamnya sesuai dengan profil risiko Anda.
- Perhatikan Likuiditas: Pilih ETF yang memiliki volume perdagangan cukup tinggi di pasar sekunder untuk memudahkan proses jual-beli saat dibutuhkan.
- Evaluasi Track Error: Semakin kecil selisih pergerakan ETF dengan indeks acuannya (tracking error), maka semakin baik kinerja Manajer Investasi dalam mengelola dana tersebut.
- Gunakan Strategi DCA: Dollar Cost Averaging atau rutin menyisihkan dana setiap bulan bisa menjadi cara efektif untuk meminimalisir dampak volatilitas pasar.
Investasi pada ETF dapat menjadi pilihan bagi Anda yang menginginkan diversifikasi luas dengan biaya yang kompetitif.
Meski demikian, seperti instrumen pasar modal lainnya, ETF tetap memiliki risiko pasar yang mengikuti fluktuasi harga aset di bawahnya.
Pemahaman yang mendalam mengenai fundamental indeks dan kondisi ekonomi makro tetap menjadi kunci utama dalam meraih keuntungan jangka panjang di pasar modal Indonesia.
Selanjutnya: Nasib Keuangan Freelancer Terjamin: Strategi Cerdas Kelola Uang Tanpa Gaji Tetap
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News