KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seiring kemajuan dalam digitalisasi layanan industri keuangan, kasus-kasus kejahatan di industri ini juga meningkat. Berdasarkan temuan Visa, yang dipublikasikan dalam Biannual Threats Report: Five Forces Reshaping Payment Security in 2025, aksi kejahatan terhadap keuangan digital juga semakin canggih.
Head of Risk, Regional Southeast Asia Visa Abdul Rahim menuturkan, pelaku industri keuangan di kawasan Asia Pasifik terutama mendapati kondisi yang lebih menantang dibanding kawasan lain. “Di negara lain, masih banyak pengguna kartu untuk pembayaran. Tapi di Asia Pasifik lebih terfragmentasi, ada banyak metode pembayaran,” kata dia.
Dengan demikian, pelaku industri keuangan di Asia Pasifik perlu memiliki lebih banyak metode untuk mendeteksi potensi kejahatan. Pasalnya, setiap instrumen pembayaran akan membutuhkan protokol perlindungan yang berbeda
Baca Juga: Uang Anda di Bank Aman? Pahami Beda LPS dan OJK agar Tak Salah Kaprah
Lalu, bagaimana kejahatan keuangan beraksi di era digital ini? Visa mendapati, jaringan kriminal kini beroperasi menggunakan infrastruktur sistematis berskala industri, termasuk menggunakan botnet, skrip otomatis, dan alat berbasis akal imitasi (AI).
Dalam Biannual Threats Report, Visa menyebut pelaku kejahatan keuangan memanfaatkan AI untuk membuat konten palsu, seperti situs merchant palsu, identitas palsu, agen layanan pelanggan palsu, hingga dokumentasi kepatuhan palsu, yang sulit dibedakan dengan yang asli. Karena itu, mitigasi kejahatan tradisional yang mengandalkan visual akan sulit mengatasi kejahatan ini.
Selain itu, pelaku kejahatan keuangan juga menyasar kebiasaan dan emosi konsumen atau nasabah. Rahim mencontohkan, ini kerap terjadi dalam penipuan berbasis percintaan atau penipuan investasi, di mana pelaku kejahatan memanfaatkan keserakahan korbannya.
Baca Juga: Rencana Keuangan: Mengapa Banyak Orang Gagal Capai Target 2026?
“Para penipu sebenarnya menyerang perilaku manusia. Jadi penting bagi industri untuk berkolaborasi dalam melanjutkan kampanye edukasi pelanggan untuk mengingatkan konsumen tentang semua faktor serangan baru ini,” imbuh Rahim.
Karena itu, Rahim menuturkan, pelaku industri keuangan juga perlu meningkatkan kemampuan teknologinya. “Jadi pada dasarnya kita perlu melawan AI dengan AI,” kata dia.
Rahim menambahkan, di Visa, AI sudah menjadi landasan dari sebagian besar mitigasi penipuan yang dilakukan. “Model AI kami menganalisis ratusan sinyal untuk mengidentifikasi potensi penipuan secara real-time dan membantu klien kami mencegah penipuan” papar dia.
Selanjutnya: Gihon (GHON) Incar Penambahan Tenancy dan Optimalisasi Menara di Jabodetabek
Menarik Dibaca: 5 Pilihan Sofa yang Sebaiknya Dihindari untuk Ruang Tamu Rumah Modern
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News