KONTAN.CO.ID - Dalam dinamika pasar modal, keputusan korporasi sering kali menjadi sinyal penting bagi para investor untuk menentukan posisi portofolionya.
Salah satu aksi korporasi yang kerap menarik perhatian adalah pembelian kembali saham atau yang lebih dikenal dengan istilah buyback saham.
Langkah ini sering dianggap sebagai indikator positif terhadap nilai fundamental perusahaan di masa depan.
Baca Juga: Rumus Hitung Cicilan KPR Sesuai Gaji: Strategi Amankan Arus Kas dan Simulasi Bunga
Secara teknis, buyback adalah kondisi di mana sebuah perusahaan publik membeli kembali saham mereka yang beredar di pasar sekunder dari tangan publik.
Langkah ini secara langsung mengurangi jumlah lembar saham yang beredar, sehingga memberikan pengaruh signifikan terhadap struktur permodalan perusahaan tersebut.
Memahami Mekanisme Buyback Saham
Aksi buyback dilakukan emiten dengan menyerap kembali sahamnya menggunakan dana internal perusahaan (laba ditahan) atau dana dari cadangan modal.
Setelah dibeli kembali, saham tersebut biasanya akan disimpan sebagai saham treasuri (treasury stock). Saham ini tidak lagi memiliki hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan tidak berhak mendapatkan pembagian dividen.
Melansir dari Investopedia, perusahaan memilih melakukan pembelian kembali saham untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham yang tersisa.
Dengan berkurangnya jumlah saham beredar, maka persentase kepemilikan investor yang tetap memegang saham tersebut secara otomatis meningkat tanpa mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli lembar baru.
Mengapa Emiten Melakukan Buyback?
Terdapat berbagai motivasi strategis di balik keputusan manajemen untuk melakukan pembelian kembali saham.
Dikutip dari MNC Sekuritas, salah satu alasan utama adalah karena perusahaan merasa harga saham mereka saat ini di pasar sudah terlalu murah (undervalued).
Berikut adalah beberapa tujuan krusial dari aksi korporasi buyback:
- Meningkatkan Indikator Keuangan: Dengan jumlah saham yang lebih sedikit, nilai Earnings Per Share (EPS) atau laba per saham akan meningkat, yang biasanya memicu kenaikan harga saham.
- Memberikan Sinyal Optimisme: Manajemen ingin menunjukkan kepada pasar bahwa perusahaan memiliki likuiditas yang sehat dan percaya diri terhadap prospek pertumbuhan bisnis ke depan.
- Mengurangi Biaya Modal: Dengan meminimalkan jumlah saham, perusahaan dapat mengoptimalkan struktur modalnya guna mencapai efisiensi finansial yang lebih baik.
- Stabilisasi Harga: Pembelian kembali sering dilakukan untuk meredam fluktuasi harga saham yang terlalu tajam di tengah kondisi pasar yang sedang tertekan.
Pentingnya Aksi Buyback Bagi Investor
Bagi para pelaku investasi, pengumuman buyback saham sering kali dipandang sebagai katalis positif.
Bersumber dari Mandiri Sekuritas, aksi ini penting karena dapat memperkuat fundamental harga saham di pasar.
Ketika suplai saham di pasar berkurang sementara permintaan tetap atau meningkat, secara hukum ekonomi harga saham cenderung akan terapresiasi.
Tonton: Asaki Curhat Gangguan Pasokan Bahan Baku Keramik dari Jabar, Menperin Telepon KDM
Namun, investor juga perlu bersikap cermat dalam menganalisis aksi ini. Berikut adalah poin-poin yang harus diperhatikan investor saat emiten mengumumkan buyback:
- Sumber Pendanaan: Pastikan dana buyback berasal dari laba bersih atau arus kas bebas yang kuat, bukan berasal dari utang baru yang dapat membebani kinerja keuangan jangka panjang.
- Efisiensi Pajak: Dibandingkan dengan pembagian dividen tunai yang dikenakan pajak, buyback sering dianggap sebagai cara yang lebih efisien bagi perusahaan untuk mengembalikan nilai kepada pemegang saham melalui kenaikan harga modal (capital gain).
- Rencana Penggunaan Saham Treasuri: Investor perlu mengetahui apakah saham hasil buyback akan dimusnahkan untuk mengurangi modal atau nantinya akan dijual kembali ke pasar saat harga sudah tinggi.
Dampak Jangka Panjang Terhadap Portofolio
Aksi pembelian kembali saham yang dilakukan secara konsisten oleh perusahaan berkinerja baik biasanya menjadi instrumen yang ampuh untuk meningkatkan Return on Equity (ROE).
Hal ini dikarenakan ekuitas perusahaan yang digunakan untuk menghitung rasio tersebut menjadi lebih kecil setelah saham ditarik dari peredaran.
Meskipun secara umum memberikan sentimen positif, investor disarankan untuk tetap melakukan riset mendalam. Jika sebuah perusahaan melakukan buyback namun mengabaikan investasi pada riset dan pengembangan (research and development), hal itu bisa menjadi sinyal bahwa perusahaan kekurangan ide untuk ekspansi bisnis.
Memahami esensi dari buyback saham akan membantu investor dalam membedakan antara manuver kosmetik untuk menaikkan harga sesaat dengan strategi manajemen yang benar-benar berfokus pada pertumbuhan nilai jangka panjang.
Selanjutnya: Promo Deterjen di Alfamart 1-15 Februari 2026, Ada Diskon Hingga 35%
Menarik Dibaca: Daerah Ini Hujan Sangat Lebat, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (5/2) Jabodetabek
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News