Investasi Cerdas Lawan Inflasi: Panduan Keuangan 2026

Minggu, 04 Januari 2026 | 12:45 WIB
Investasi Cerdas Lawan Inflasi: Panduan Keuangan 2026

ILUSTRASI. Investasi Cerdas Lawan Inflasi: Panduan Keuangan 2026. (Ilustrasi/Unsplash)


Sumber: Prudential Indonesia,Sahabat Pegadaian  | Editor: Tiyas Septiana

KONTAN.CO.ID -  Memasuki tahun 2026, pemahaman mengenai manajemen risiko inflasi menjadi krusial agar nilai kekayaan tidak menyusut seiring berjalannya waktu. Laju inflasi di Indonesia tahun ini diproyeksikan berada di angka 2-3% yang tentu saja mempengaruhi nilai daya beli.

Inflasi merupakan fenomena ekonomi yang ditandai dengan kenaikan harga barang dan jasa secara umum serta terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. 

Sederhananya, inflasi menyebabkan jumlah barang yang bisa dibeli dengan nominal uang yang sama menjadi lebih sedikit dibandingkan periode sebelumnya. 

Baca Juga: Cara Aman Beli Saham Luar Negeri untuk Investor Indonesia 2026

Jika laju kenaikan harga ini tidak diimbangi dengan pertumbuhan imbal hasil aset, maka secara riil, kekayaan bersih seorang individu sebenarnya sedang mengalami penurunan.

Mengenal Mekanisme Inflasi dan Dampaknya bagi Nasabah

Kenaikan inflasi sering kali dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari meningkatnya permintaan masyarakat, kenaikan biaya produksi, hingga jumlah uang beredar yang berlebihan. 

Melansir laman resmi Sahabat Pegadaian, inflasi adalah kondisi saat nilai mata uang mengalami depresiasi terhadap komoditas barang. 

Hal ini menjadikan strategi menabung konvensional di bawah bantal atau hanya mengandalkan rekening giro tanpa bunga menjadi kurang efektif.

Contohnya, jika tingkat inflasi tahunan berada di level 5%, maka dana sebesar Rp 100.000.000 pada awal tahun, nilainya akan setara dengan Rp 95.000.000 pada tahun berikutnya dalam hal daya beli. 

Dalam jangka panjang, dampak ini akan sangat terasa pada instrumen keuangan seperti tabungan pendidikan atau dana pensiun yang tidak dikelola secara aktif dalam instrumen protektif.

Strategi Mengamankan Aset dari Gerusan Inflasi

Untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi dan kenaikan harga, para pakar keuangan menyarankan diversifikasi portofolio ke instrumen yang memiliki korelasi positif terhadap inflasi.

Mengutip dari Bank BCA, salah satu cara tepat mengamankan aset adalah dengan mengalihkan sebagian likuiditas ke aset riil atau instrumen pasar modal yang mampu memberikan imbal hasil di atas laju inflasi.

Berikut adalah beberapa langkah strategis yang bisa diambil untuk melindungi nilai tabungan:

  • Investasi pada Logam Mulia: Emas sering dianggap sebagai safe haven karena nilainya cenderung stabil dan meningkat saat inflasi tinggi.
  • Diversifikasi ke Instrumen Saham: Memilih saham perusahaan dengan fundamental kuat yang memiliki kemampuan meneruskan kenaikan biaya produksi ke konsumen (pricing power).
  • Reksadana dan Obligasi Negara: Memanfaatkan produk reksadana atau Surat Berharga Negara (SBN) yang menawarkan kupon kompetitif di atas rata-rata kenaikan harga konsumen.
  • Properti: Investasi aset tetap seperti tanah atau bangunan yang nilainya cenderung mengikuti atau melampaui laju inflasi tahunan.

Mengatur Ulang Perencanaan Keuangan Jangka Panjang

Selain beralih ke instrumen investasi, perubahan perilaku keuangan juga diperlukan.

Melansir laman Prudential Indonesia, strategi menghadapi inflasi harus melibatkan peninjauan kembali pos pengeluaran rutin dan dana darurat.

Anda disarankan untuk memprioritaskan pelunasan utang dengan bunga mengambang (floating rate) yang berpotensi membengkak saat bank sentral menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi.

Tonton: Indonesia Hentikan Impor Solar 2026: Dampak Swasta & Peran Kilang Pertamina

Di sisi lain, penting bagi individu untuk tetap menjaga ketersediaan dana darurat yang likuid. Namun, porsi dana ini harus dihitung secara presisi agar tidak ada terlalu banyak "uang menganggur" yang nilainya terus menyusut.

Mengalokasikan dana darurat ke reksadana pasar uang bisa menjadi opsi untuk mendapatkan likuiditas tinggi sekaligus imbal hasil yang lebih baik daripada tabungan biasa.

Secara teknis, berikut adalah tahapan evaluasi mandiri untuk memitigasi risiko inflasi:

  • Hitung Laju Inflasi Riil: Bandingkan pengeluaran rumah tangga bulan ini dengan tahun lalu pada item yang sama untuk melihat kenaikan harga nyata.
  • Audit Portofolio Investasi: Pastikan rata-rata imbal hasil bersih (net return) portofolio berada di atas angka inflasi tahunan yang dilaporkan pemerintah.
  • Penyesuaian Gaya Hidup: Meminimalkan pengeluaran pada barang konsumtif yang mengalami lonjakan harga akibat gangguan rantai pasok global.
  • Rebalancing Aset: Melakukan pengaturan ulang porsi aset secara berkala untuk memastikan komposisi investasi tetap sesuai dengan profil risiko dan target pertumbuhan.

Menghadapi tahun 2026 yang dinamis, literasi mengenai inflasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi setiap pemegang kebijakan keuangan keluarga. Dengan memadukan antara disiplin menabung dan kecerdasan berinvestasi, masyarakat dapat memastikan bahwa kerja keras mereka hari ini tetap bernilai di masa depan.

Selanjutnya: Manchester City vs Chelsea: Prediksi, Jadwal, Link Live Streaming Vidio

Menarik Dibaca: Cara Mudah Mencari Tambahan Penghasilan untuk Kebutuhan yang Mendesak

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tag

Terbaru