KONTAN.CO.ID - Investasi instrumen surat utang negara kini semakin diminati oleh investor domestik, terutama di tengah fluktuasi pasar modal yang dinamis.
Obligasi Negara Ritel (ORI) hadir sebagai solusi bagi masyarakat yang mencari keamanan aset sekaligus imbal hasil yang kompetitif dibandingkan dengan deposito perbankan.
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terus mendorong partisipasi masyarakat dalam pembiayaan pembangunan nasional melalui penerbitan instrumen investasi yang terjangkau dan rendah risiko ini.
Baca Juga: Awas Denda Mengintai! Simak Cara Lapor SPT Tahunan di Coretax Sebelum Maret 2026
Mengutip informasi resmi dari laman Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu, obligasi negara merupakan salah satu bagian dari Surat Berharga Negara (SBN) yang dijual kepada individu atau perseorangan warga negara Indonesia melalui agen penjual.
Instrumen ini tidak hanya berfungsi sebagai alat investasi, tetapi juga menjadi bukti kontribusi langsung masyarakat dalam mendukung stabilitas ekonomi nasional.
Dengan nominal pemesanan yang semakin inklusif, investasi ini kini bisa dijangkau oleh berbagai lapisan masyarakat.
Detail Fakta dan Karakteristik Obligasi Negara Ritel
Obligasi Negara Ritel memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dengan produk investasi lain seperti saham atau reksadana.
Melansir dari CIMB Niaga, salah satu daya tarik utama dari ORI adalah adanya jaminan pembayaran kupon dan pokok oleh negara sesuai dengan undang-undang yang berlaku.
Hal ini membuat risiko gagal bayar pada instrumen ini hampir tidak ada, menjadikannya sebagai instrumen bebas risiko dalam kacamata analisis keuangan.
Beberapa poin utama yang perlu dipahami mengenai obligasi negara meliputi:
- Kupon Tetap (Fixed Rate): Besaran bunga atau kupon yang diterima investor bersifat tetap hingga masa jatuh tempo, sehingga investor tidak perlu khawatir dengan penurunan suku bunga pasar.
- Dapat Diperdagangkan: Berbeda dengan beberapa jenis SBN lainnya, ORI dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Ini memberikan fleksibilitas likuiditas bagi investor yang membutuhkan dana sebelum masa jatuh tempo berakhir.
- Potensi Capital Gain: Investor berkesempatan mendapatkan keuntungan selisih harga jika menjual obligasi di atas harga beli saat harga pasar sedang naik.
- Tenor Investasi: Biasanya memiliki jangka waktu investasi selama 3 tahun, namun pemerintah terkadang menawarkan pilihan tenor yang lebih bervariasi.
Baca Juga: Strategi Amankan Aset di SBN Ritel 2026: Cek Jadwal ORI029 dan Cara Pesannya
Panduan Teknis: Syarat dan Prosedur Pembelian
Bagi Anda yang tertarik untuk mulai mengalokasikan dana pada instrumen ini, terdapat beberapa persyaratan teknis dan tahapan yang harus dilalui. Transaksi kini sudah dilakukan secara daring (online) melalui mitra distribusi resmi untuk memudahkan jangkauan investor di seluruh Indonesia.
Persyaratan Utama Investor:
- Warga Negara Indonesia (WNI) yang dibuktikan dengan KTP.
- Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) untuk urusan pelaporan pajak kupon.
- Memiliki rekening tabungan di bank operasional yang terdaftar.
- Memiliki Single Investor Identification (SID) yang biasanya dibuatkan oleh agen penjual saat pendaftaran.
Langkah-langkah Pembelian Obligasi Negara:
- Registrasi: Investor melakukan pendaftaran melalui sistem elektronik mitra distribusi (bank, perusahaan efek, atau fintech) yang telah ditunjuk oleh pemerintah.
- Pemesanan: Setelah registrasi terverifikasi, investor melakukan pemesanan (order) pada masa penawaran yang telah ditentukan dengan memperhatikan kuota yang tersedia.
- Pembayaran: Setelah pesanan dikonfirmasi, investor akan mendapatkan kode pembayaran (billing code) untuk melunasi transaksi melalui ATM, internet banking, atau teller bank dalam batas waktu tertentu.
- Konfirmasi: Investor akan mendapatkan Bukti Konfirmasi Kepemilikan SBN Ritel setelah masa penawaran berakhir dan pemerintah melakukan penetapan hasil penjualan.
Perbandingan Imbal Hasil dan Profil Risiko Bagi Investor
Dalam dunia investasi, pemahaman mengenai perbandingan antar instrumen sangatlah krusial. Obligasi negara sering kali dibandingkan dengan deposito perbankan karena keduanya memiliki profil risiko yang relatif rendah.
Namun, secara historis, tingkat kupon ORI cenderung selalu berada di atas rata-rata suku bunga deposito bank-bank BUMN. Hal ini memberikan nilai tambah nyata bagi pertumbuhan aset investor dalam jangka panjang.
Tonton: UNTR Resmi Caplok Tambang Emas Doup Rp8,85 Triliun, Target Komersial 2028
Keunggulan lain yang perlu dicatat adalah aspek perpajakan. Pajak atas kupon obligasi negara saat ini telah ditetapkan sebesar 10%, yang mana angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan pajak bunga deposito yang mencapai 20%.
Perbedaan beban pajak ini secara langsung meningkatkan imbal hasil bersih (net yield) yang diterima oleh pemegang obligasi setiap bulannya.
Beberapa catatan terkait risiko dan pengelolaan aset:
- Risiko Pasar (Market Risk): Meskipun pokok dijamin negara, harga obligasi di pasar sekunder bisa berfluktuasi mengikuti tren suku bunga. Jika suku bunga naik, harga obligasi cenderung turun.
- Risiko Likuiditas: Meskipun dapat diperdagangkan, proses penjualan di pasar sekunder membutuhkan waktu untuk menemukan pembeli melalui agen penjual, sehingga tidak seinstan penarikan tabungan.
- Pemanfaatan Kupon: Investor disarankan untuk melakukan reinvesting atau menginvestasikan kembali kupon yang diterima setiap bulan ke instrumen lain guna mendapatkan efek bunga berbunga (compounding effect).
- Keamanan Transaksi: Selalu pastikan Anda bertransaksi melalui kanal resmi mitra distribusi yang terdaftar di OJK dan Kementerian Keuangan untuk menghindari risiko penipuan.
Dengan mempertimbangkan rasio keuntungan dan keamanan yang ditawarkan, obligasi negara ritel tetap menjadi instrumen primadona bagi investor yang menginginkan pendapatan tetap (fixed income) dengan proteksi aset yang maksimal dari negara.
Selanjutnya: 7 Film Romantis Wajib Tonton Jomblo, Dijamin Bikin Semangat Move On
Menarik Dibaca: 7 Film Romantis Wajib Tonton Jomblo, Dijamin Bikin Semangat Move On
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News