Investasi

Inilah ​6 faktor penyebab harga emas naik

Kamis, 06 Agustus 2020 | 15:02 WIB   Penulis: Virdita Ratriani
Inilah ​6 faktor penyebab harga emas naik

ILUSTRASI. Petugas menunjukkan emas batangan yang dijual di Butik Emas Antam, Jakarta, Selasa (28/7/2020). Harga emas terus mendaki dalam beberapa hari terakhir.

KONTAN.CO.ID - Harga emas terus mendaki, dan berhasil menembus Rp 1 juta per gram. Pada Kamis, 6 Agustus 2020, harga emas Antam untuk ukuran 1 gram mencapai Rp 1.054.000.

Harga emas Antam ini naik Rp 6.000 per gram dari harga Rabu (5/8) di Rp 1.048.000. Jika ditinjau dari 7 hari lalu (30 Juli 2020), harga emas Antam naik Rp 38.000 per gram dari harga sebelumnya Rp 1.016.000. 

Ada sejumlah faktor penyebab harga emas naik. Dikutip dari investopedia, berikut faktornya:

Baca Juga: Harga emas diyakini akan terus melonjak ke rekor baru, ini alasannya

1. Inflasi 

Harga emas digerakkan oleh kombinasi penawaran, permintaan, dan perilaku investor. Meski tampaknya cukup sederhana, faktor-faktor tersebut bekerja bersama.

Misalnya, banyak investor menganggap emas sebagai lindung nilai inflasi. Hal itu masuk akal karena uang kertas bisa mengalami penurunan nilai, sementara emas relatif konstan.

Kebetulan, penambangan emas tidak menambah banyak pasokan dari tahun ke tahun. Sehingga, masyarakat lebih memilih mengamankan aset mereka dalam bentuk emas dibanding uang lantaran nilainya tidak tergerus inflasi. 

Baca Juga: Harga Emas Terus Naik, Saatnya Profit Taking atau Tunggu Turun Sebelum Tambah Posisi

2. Jumlah permintaan dan pasokan

Saat resesi hebat melanda, harga emas naik. Dalam makalah berjudul The Golden Dilemma, Erb dan Harvey mencatat, emas memiliki elastisitas harga yang positif. 

Artinya, semakin banyak orang membeli emas, harganya naik, sejalan dengan permintaan. Jika investor mulai berbondong-bondong membeli emas, harga naik tidak peduli apa bentuk perekonomian atau apa kebijakan moneternya.

Tetapi, saat jumlah peminat turun, maka harga juga bisa turun. Sebab, emas berbeda dengan minyak atau kopi, emas tidak dikonsumsi. 

Hampir semua emas yang pernah ditambang masih ada dan lebih banyak emas yang ditambang setiap hari. Meskipun negara-negara, seperti India dan China, memperlakukan emas sebagai penyimpan nilai, orang-orang yang membelinya di kedua negara itu tidak secara teratur memperdagangkannya atau menggunakannya sebagai alat pembayaran. 

3. Kebijakan Bank Sentral 

Penggerak pasar harga emas terkadang adalah bank sentral. Setiap negara pasti memiliki bank sentral masing-masing. Bank sentral di negara kita adalah Bank Indonesia. 

Pada saat cadangan devisa besar dan perekonomian terus berjalan, bank sentral ingin mengurangi jumlah emas yang mereka miliki. Sebab, emas adalah aset mati, tidak seperti obligasi atau bahkan uang di rekening deposito, tidak menghasilkan pengembalian. 

Baca Juga: Rekor, harga emas diramal bisa menyentuh US$ 3.000 dalam 18 bulan ke depan

Masalah bagi bank sentral adalah justru ketika investor lain di luar sana tidak begitu tertarik pada emas. Akibatnya, harga emas jatuh.

4. Suku bunga 

Suku bunga juga berpengaruh terhadap kenaikan harga emas. Saat suku bunga rendah, maka harga emas akan naik. Sementara harga emas akan cenderung stabil atau turun saat suku bunga naik. 

Soalnya, ketika suku bunga naik, masyarakat lebih memilih menyimpan uang mereka dalam bentuk deposito yang memiliki bunga tinggi. 

Perpaduan antara kenaikan inflasi dan penurunan suku bunga akan membuat harga emas semakin mahal. 

Baca Juga: Siap-siap, harga emas spot berpotensi menyentuh US$ 2.200 per ons troi

5. Perubahan nilai tukar

Perubahan nilai tukar rupiah dengan dollar Amerika Serikat (AS) juga berpengaruh terhadap kenaikan harga emas. Semakin tinggi kurs dollar AS terhadap rupiah atau rupiah semakin melemah, maka harga emas akan semakin menguat atau tinggi. 

6. Faktor lain 

Faktor lain yang bisa memengaruhi harga emas adalah kondisi geopolitik global. Seperti saat ini, harga emas mengalami kenaikan saat ada sejumlah masalah global.

Salah satunya adalah, konflik geopolitik China dan India di Pegunungan Himalaya yang sedang memanas kembali.

Baca Juga: Pertama kali dalam sejarah, emas tembus US$ 2.000

Di sisi lain, hubungan China dengan AS juga kian memanas. Keduanya saling menutup Konsulat. Beijing menutup konsulat AS di Chengdu sebagai upaya balas dendam atas penutupan Konsulat Tiongkok oleh Washington di Houston.

Pandemi virus corona yang belum tahu waktu berakhirnya juga turut berpengaruh secara tidak langsung terhadap harga emas. 

 

Halaman   1 2 3 Tampilkan Semua
Editor: Virdita Ratriani
Terbaru