Awas Jebakan Emosi! Ini Alasan Investor Gagal Cuan di Pasar Modal

Sabtu, 10 Januari 2026 | 16:40 WIB
Awas Jebakan Emosi! Ini Alasan Investor Gagal Cuan di Pasar Modal

ILUSTRASI. Awas Jebakan Emosi! Ini Alasan Investor Gagal Cuan di Pasar Modal. (Dok/BNI Sekuritas)


Sumber: Heygotrade,Blu by BCA Digital,Investopedia  | Editor: Tiyas Septiana

KONTAN.CO.ID -  Investasi jangka panjang tetap menjadi strategi paling mumpuni bagi para pemodal yang ingin membangun kekayaan secara berkelanjutan di pasar modal.

Meskipun fluktuasi pasar jangka pendek seringkali menimbulkan kekhawatiran, sejarah menunjukkan bahwa aset produktif cenderung memberikan imbal hasil yang optimal jika dipertahankan dalam kurun waktu lebih dari lima atau sepuluh tahun.

Bagi banyak investor, tantangan terbesar bukanlah menentukan instrumen investasi, melainkan menjaga disiplin dan psikologi saat pasar mengalami volatilitas.

Tanpa rencana yang matang, investor cenderung terjebak dalam pengambilan keputusan emosional yang justru dapat merugikan nilai portofolio secara keseluruhan.

Baca Juga: Jaga Keuangan Sehat! Ini Rasio Ideal Konsumsi vs Investasi

Prinsip Dasar Investasi Jangka Panjang

Keberhasilan dalam investasi jangka panjang sangat bergantung pada pemahaman investor terhadap dasar-dasar pasar modal.

Mengutip dari laman Investopedia, salah satu kunci utama adalah fokus pada prospek masa depan suatu perusahaan atau aset, bukan terpaku pada pergerakan harga harian.

Investor jangka panjang bertindak sebagai pemilik bisnis yang percaya pada pertumbuhan nilai seiring berjalannya waktu.

Selain fokus pada fundamental, terdapat beberapa pilar utama yang perlu diperhatikan:

  • Pemanfaatan Bunga Majemuk: Semakin lama dana diinvestasikan, semakin besar efek bola salju dari bunga majemuk yang akan bekerja maksimal pada portofolio Anda.
  • Diversifikasi Aset: Menyebarkan modal ke berbagai sektor dan jenis instrumen untuk meminimalkan dampak jika salah satu sektor mengalami penurunan.
  • Disiplin Rutin: Melakukan investasi secara berkala tanpa perlu menunggu waktu yang paling sempurna untuk masuk ke pasar (market timing).

Investor yang sukses biasanya menghindari godaan untuk melakukan perdagangan harian yang berisiko tinggi. Fokus pada biaya transaksi yang rendah dan efisiensi pajak juga menjadi bagian integral dari strategi jangka panjang yang efektif.

Baca Juga: Risiko Investasi Kripto 2026: Apa Saja yang Harus Anda Ketahui

Langkah Praktis Memulai Portofolio Jangka Panjang

Bagi Anda yang baru akan memulai, menyusun langkah-langkah strategis sangat diperlukan agar investasi tetap terukur dan sesuai dengan tujuan finansial.

Dikutip dari situs Blu by BCA Digital, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan tujuan keuangan yang spesifik, seperti dana pendidikan anak atau persiapan masa pensiun.

Berikut adalah tahapan praktis dalam membangun portofolio investasi jangka panjang:

  • Evaluasi Profil Risiko: Kenali kemampuan Anda dalam menghadapi penurunan nilai aset secara sementara di pasar.
  • Alokasi Aset yang Tepat: Tentukan porsi antara instrumen agresif seperti saham dan instrumen konservatif seperti obligasi atau deposito.
  • Memilih Instrumen Berkualitas: Fokus pada perusahaan dengan kinerja keuangan yang sehat, model bisnis yang jelas, serta manajemen yang kredibel.
  • Monitoring Berkala: Lakukan penyeimbangan kembali (rebalancing) portofolio setidaknya satu kali dalam setahun untuk memastikan alokasi aset tetap sesuai dengan target awal.

Dana darurat harus sudah terpenuhi sebelum seseorang mulai masuk ke instrumen investasi jangka panjang. Hal ini bertujuan agar investor tidak terpaksa mencairkan aset investasinya saat sedang terjadi penurunan harga hanya untuk memenuhi kebutuhan mendesak.

Kapan Harus Menjual Investasi Jangka Panjang?

Penting untuk dipahami bahwa investasi jangka panjang bukan berarti investor dilarang menjual aset mereka sama sekali. Menjual investasi adalah bagian dari strategi manajemen risiko dan pemenuhan tujuan keuangan.

Mempertahankan aset secara buta tanpa evaluasi justru bisa membahayakan nilai portofolio jika kondisi fundamental telah berubah secara permanen.

Dilansir dari Investopedia, ada beberapa kondisi logis yang mengharuskan investor mempertimbangkan untuk menjual investasinya:

  • Tujuan Keuangan Telah Tercapai: Jika dana yang diinvestasikan sudah mencapai target nominal untuk tujuan tertentu, misalnya untuk membeli rumah atau membiayai sekolah, maka mencairkan aset adalah langkah yang tepat.
  • Perubahan Fundamental Perusahaan: Apabila perusahaan tempat Anda berinvestasi mengalami perubahan drastis dalam model bisnis, kehilangan keunggulan kompetitif, atau terlibat skandal manajemen yang serius.
  • Kebutuhan Rebalancing: Saat satu jenis aset tumbuh terlalu agresif sehingga proporsinya mendominasi portofolio dan meningkatkan risiko secara keseluruhan.
  • Adanya Peluang yang Lebih Baik: Jika terdapat instrumen lain dengan profil risiko serupa namun menawarkan potensi pertumbuhan yang jauh lebih meyakinkan dalam jangka panjang.

Tonton: Partai Demokrat Dukung Pilkada via DPRD: Lebih Hemat Biaya!

Mengelola Psikologi dan Risiko Pasar

Pasar modal tidak pernah bergerak dalam garis lurus ke atas. Penurunan atau koreksi pasar adalah bagian alami dari siklus ekonomi yang harus diterima oleh setiap investor.

Melansir dari Gotrade, salah satu kesalahan fatal investor pemula adalah melakukan penjualan karena panik (panic selling) saat harga saham sedang turun.

Untuk menghadapi ketidakpastian ini, strategi Dollar Cost Averaging (DCA) seringkali menjadi solusi terbaik.

Dengan metode ini, investor menyetorkan dana dalam jumlah yang sama secara rutin tanpa mempedulikan harga pasar. Ketika harga turun, investor mendapatkan lebih banyak unit, dan ketika harga naik, nilai aset keseluruhan ikut bertumbuh.

Selain itu, Gotrade menekankan pentingnya memiliki pandangan yang realistis terhadap imbal hasil. Investasi bukanlah cara instan untuk menjadi kaya dalam semalam.

Kesabaran untuk tetap bertahan dalam rencana awal, bahkan saat kondisi ekonomi global tidak menentu, adalah faktor pembeda antara investor yang berhasil dan mereka yang gagal di tengah jalan.

Secara keseluruhan, investasi jangka panjang memerlukan kombinasi antara analisis yang tepat dan ketahanan mental. Dengan memahami risiko dan tetap berpegang pada prinsip diversifikasi, peluang investor untuk mencapai kemerdekaan finansial di masa depan akan semakin terbuka lebar.

Selanjutnya: MNC Energy Investment (IATA) Bidik Produksi Batubara 7,85 Juta Ton pada 2026

Menarik Dibaca: 11 Jus untuk Menambah Berat Badan yang Bisa Anda Coba

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tag

Terbaru