Selisih Spread Emas vs. Keuntungan Reksadana: Mana Pilihan 2026?

Minggu, 11 Januari 2026 | 10:17 WIB
Selisih Spread Emas vs. Keuntungan Reksadana: Mana Pilihan 2026?

ILUSTRASI. Selisih Spread Emas vs. Keuntungan Reksadana: Mana Pilihan 2026? (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Sumber: OCBC NISP,Sahabat Pegadaian  | Editor: Tiyas Septiana

KONTAN.CO.ID -  Memasuki awal tahun 2026, para investor di Indonesia kembali dihadapkan pada pilihan instrumen investasi yang paling stabil namun tetap memberikan imbal hasil menarik.

Di tengah dinamika pasar keuangan global, instrumen emas dan reksadana tetap menjadi primadona bagi investor ritel yang ingin melakukan diversifikasi aset guna menjaga nilai kekayaan mereka.

Kedua instrumen ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda, baik dari sisi likuiditas, profil risiko, maupun potensi pertumbuhan nilainya.

Emas sering dianggap sebagai aset aman atau safe haven, sementara reksadana menawarkan fleksibilitas dengan berbagai pilihan kategori yang dapat disesuaikan dengan tujuan keuangan investor.

Baca Juga: Jebakan Inflasi Biaya Sekolah: 5 Aset Ini Bisa Selamatkan Tabungan Anda

Perbandingan Karakteristik Emas dan Reksadana

Memahami perbedaan mendasar antara kedua instrumen ini sangat krusial sebelum memutuskan untuk menempatkan modal.

Melansir laman resmi OCBC, pemilihan antara emas atau reksadana harus didasarkan pada tujuan investasi jangka pendek maupun jangka panjang.

Emas bersifat sebagai aset berwujud yang nilainya cenderung stabil dan naik saat terjadi inflasi tinggi atau ketidakpastian geopolitik.

Sebaliknya, reksadana merupakan wadah untuk menghimpun dana masyarakat yang dikelola oleh Manajer Investasi ke dalam berbagai portofolio efek seperti saham, obligasi, atau pasar uang.

Melansir Sahabat Pegadaian, terdapat beberapa poin perbandingan utama yang perlu diperhatikan:

  • Modal Awal: Investasi emas kini sangat terjangkau melalui sistem tabungan emas mulai dari Rp10.000. Begitu pula dengan reksadana yang dapat dibeli mulai dari nominal yang sama di berbagai platform digital.
  • Likuiditas: Emas batangan atau tabungan emas sangat mudah dicairkan menjadi uang tunai di outlet-outlet resmi. Reksadana juga memiliki likuiditas tinggi, meski proses pencairan biasanya membutuhkan waktu satu hingga tujuh hari kerja (T+7).
  • Risiko: Risiko utama emas adalah kehilangan fisik dan selisih harga jual kembali (spread). Reksadana memiliki risiko penurunan nilai aktiva bersih (NAB) akibat fluktuasi harga pasar modal.
  • Pajak dan Biaya: Keuntungan reksadana bukan merupakan objek pajak, sedangkan emas batangan biasanya dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 saat pembelian sesuai ketentuan yang berlaku.

Analisis Imbal Hasil: Mana Lebih Untung?

Menilik aspek keuntungan, performa kedua instrumen ini sangat bergantung pada kondisi ekonomi makro.

Dalam periode tertentu reksadana saham dapat memberikan imbal hasil yang jauh melampaui emas saat kondisi ekonomi bertumbuh positif. Namun, saat pasar saham mengalami kontraksi, emas justru seringkali menunjukkan performa yang lebih tangguh sebagai pelindung nilai.

Bagi investor yang mengharapkan pendapatan tetap, reksadana pendapatan tetap atau pasar uang sering kali menjadi pilihan karena stabilitasnya.

Sementara itu, emas lebih cocok bagi investor yang memiliki orientasi jangka panjang, minimal lima hingga 10 tahun, untuk benar-benar merasakan selisih kenaikan harga yang signifikan.

Sebagai gambaran, jika harga emas dunia berada di level US$ 2.700 per ons troi, dengan kurs hari ini Rp16.842 per US$, maka harga emas dalam denominasi Rupiah akan mencerminkan nilai yang cukup tinggi bagi investor domestik yakni sekitar Rp45 juta per ons troi.

Lonjakan nilai tukar US$ terhadap Rupiah seringkali memberikan keuntungan tambahan bagi pemegang emas di Indonesia melalui kenaikan harga lokal secara otomatis.

Tonton: Harga Beras Dunia Tertekan 2026! India, Thailand & Vietnam Berebut Pasar, Petani Terjepit?

Panduan Memilih Instrumen Sesuai Profil Risiko

Untuk menentukan pilihan yang tepat, investor perlu mengikuti langkah-langkah evaluasi mandiri agar portofolio tetap sehat. Berikut adalah panduan yang dapat diterapkan:

  • Tentukan Tujuan Keuangan: Gunakan reksadana pasar uang untuk tujuan kurang dari satu tahun, dan emas atau reksadana saham untuk tujuan di atas lima tahun.
  • Kenali Profil Risiko: Jika Anda tidak siap melihat saldo investasi turun secara harian, pilihlah emas atau reksadana pasar uang. Jika Anda agresif, reksadana saham bisa menjadi opsi.
  • Lakukan Diversifikasi: Jangan menempatkan seluruh dana pada satu instrumen. Kombinasi antara emas sebagai pelindung nilai dan reksadana sebagai mesin pertumbuhan adalah strategi yang disarankan oleh banyak pakar keuangan.
  • Pantau Berkala: Meskipun emas bisa "didiamkan", reksadana tetap memerlukan pemantauan kinerja Manajer Investasi setidaknya setiap enam bulan sekali.

Investasi pada dasarnya adalah upaya untuk melawan inflasi. Dengan memahami keunggulan emas dalam menjaga daya beli dan keunggulan reksadana dalam melipatgandakan aset, investor dapat lebih bijak dalam mengalokasikan modal mereka di tahun 2026 ini.

Keputusan akhir tetap berada di tangan investor dengan mempertimbangkan kebutuhan likuiditas dan toleransi terhadap risiko masing-masing.

Selanjutnya: Penampakkan Planet Mars Terkadang Terang dan Redup, Inilah yang Harus Anda Ketahui

Menarik Dibaca: Cara Bersihkan Emas Titanium yang Kusam agar Kembali Kuning dan Terlihat Segar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Terbaru