Anggaran

Menikmati euforia tanpa melupakan hari esok

Senin, 27 Januari 2014 | 09:00 WIB   Reporter: Ruisa Khoiriyah
Menikmati euforia tanpa melupakan hari esok

Euforia memiliki penghasilan sendiri untuk pertama kali kerap membikin orang lupa daratan. Penghasilan sering habis untuk memuaskan hasrat hura-hura saja. Menikmati hasil kerja keras dengan berlaku konsumtif boleh sepanjang tahu batas. Yuk, mengatur penghasilan perdana agar performa kocek di masa depan selalu sehat.

JAKARTA. Setelah menuntaskan pendidikan tinggi, fase hidup seseorang biasanya dilanjutkan dengan pengalaman mencicipi kerja pertama kali. Ingatkah Anda rasa menerima gaji pertama? Pasti sungguh spesial dan tak terlupakan.

Banyak orang pasti sepakat, produktif secara finansial memberikan perasaan aman dan berdaya. Nah, masih ingat jugakah Anda untuk apa penghasilan pertama Anda habiskan dahulu? “Saya habiskan untuk traktir keluarga dan teman-teman, lalu berbelanja barang-barang yang selama ini saya idamkan,” cerita Wuri, first jobber di sebuah bank swasta di Jakarta Selatan.

Wuri mengaku tidak menyisihkan gaji perdananya untuk tabungan. Dia berpikir karena itu gaji pertama maka sah-sah saja dia manfaatkan sepenuhnya untuk selebrasi nan konsumtif. “Nanti, kan, ada gaji bulan selanjutnya,” kata dia.

Pengalaman Andri, pekerja media di Jakarta Pusat, tak jauh berbeda. Dia bersenang-senang dengan penghasilannya itu setiap ada kesempatan. Berlibur, makan atau kongko bersama teman-teman, dan sebagainya. “Alokasi untuk menabung belum ada, setidaknya untuk setahun pertama,” ungkap dia.

Budi Raharjo, perencana keuangan dari One Shildt Financial Planning, melihat, problem utama para first jobber alias mereka yang pertama kali
memiliki penghasilan adalah euforia memiliki duit sendiri. “Euforia membentuk perilaku yang membenarkan tindakan menghabiskan seluruh pendapatan untuk kesenangan saat ini,” jelas Budi.

Saatnya memulai tradisi

Tentu saja merayakan milestone menghasilkan duit sendiri boleh-boleh saja Anda lakukan. Persoalannya, tak sedikit first jobber yang terjebak mengulang terus-menerus perilaku selebrasi konsumtif itu ketika memperoleh penghasilan berikutnya.

Padahal, jika berlarut-larut, maka perilaku boros tanpa arah itu lama kelamaan menjadi kebiasaan finansial buruk yang sulit diubah. Farah Dini, perencana keuangan dari Janus Consulting, menuturkan, masa-masa awal menjadi seorang yang produktif finansial sejatinya merupakan masa krusial untuk membentuk perilaku keuangan yang sehat.

Dus, jangan sampai salah dalam memulai kebiasaan keuangan. Beberapa kebiasaan (habit) yang baik terkait pengaturan uang bahkan perlu terbentuk sebelum Anda mencetak penghasilan pertama.

Pertama, kebiasaan menyisihkan pendapatan untuk investasi langsung setelah menerima gaji. Kedua, kebiasaan tidak menggunakan penghasilan untuk pengeluaran konsumtif yang tidak sebenarnya tidak prioritas.

Ketiga, kebiasaan untuk tidak berhobi berutang konsumtif, seperti kartu kredit. Keempat, kebiasaan untuk menentukan tujuan keuangan sedini mungkin. “Sehingga di mindset mereka, selalu ada tujuan yang akan diraih,” kata Dini.

Semakin awal membiasakan diri dengan habit tersebut, akan memudahkan Anda mengatur kocek yang sehat. “Mumpung masih muda dan lajang, akan berguna kelak ketika sudah berpasangan,” kata Budi.

Nah, bagaimana langkah ideal pengaturan keuangan bagi para first jobber? Yuk, kita simak, barangkali bisa Anda tularkan kepada anak, adik, atau keponakan.

Atur arus kas
Agenda utama bagi pekerja pemula yang tengah menikmati penghasilan pertama adalah memulai pengaturan arus kas melalui penyusunan anggaran.

Paling penting dalam menyusun anggaran adalah pastikan Anda mengeluarkan terlebih dulu sebagian penghasilan untuk kebutuhan investasi. “Minimal disisihkan 10%–15% dari total penghasilan,” saran Dini.

Sisanya, baru bisa Anda distribusikan untuk kebutuhan lain, mulai biaya hidup rutin hingga anggaran bersenang-senang (lihat contoh anggaran).

Budi memberi contoh sederhana. Setiap menerima gaji, cobalah langsung membaginya menjadi beberapa bagian penting. Misalnya, 30% gaji Anda sisihkan khusus untuk kebutuhan investasi dan tabungan. Lalu, sebesar 30% untuk biaya hidup. Kemudian sebanyak 30% Anda gunakan untuk keperluan utang produktif seperti kredit pemilikan rumah (KPR), dan sisanya bisa Anda manfaatkan untuk keperluan lain-lain.

Jika saat ini Anda masih nebeng hidup di rumah orangtua, Anda punya keuntungan karena tidak harus menanggung biaya makan dan tempat tinggal. Nah, keleluasaan itu bisa Anda manfaatkan untuk keperluan lain seperti menambah rencana investasi atau menambah anggaran untuk hura-hura.

Tapi ingat, saran Budi, besar anggaran senang-senang cukup 10% saja dari besar penghasilan. Dengan menyusun anggaran di awal penerimaan gaji, Anda terpacu untuk mengontrol pengeluaran agar tetap sesuai rencana dan kemampuan anggaran. “Belajarlah juga menciptakan surplus,” imbuh Budi.

Jika arus kas mampu mencetak surplus, Anda bisa memulai menyusun kebutuhan dana darurat. Untuk lajang, kebutuhan dana darurat hanya sekitar tiga kali pengeluaran bulanan.

Bagaimana dengan asuransi? Asuransi kesehatan bisa Anda beli jika memang belum memiliki proteksi. Sedang untuk kebutuhan asuransi jiwa, hanya menjadi wajib jika posisi Anda saat ini sudah memiliki tanggungan jiwa.

Tentukan tujuan
Agar kedisiplinan Anda dalam menyisihkan penghasilan untuk kebutuhan investasi selalu terjaga, pastikan Anda sudah memiliki tujuan investasi atau rencana keuangan. Rencana keuangan harus spesifik memuat target dana dan target waktu penggunaan dana.

Budi menyebut, rencana keuangan yang bisa dipikirkan oleh para pekerja pemula selain dana darurat dan asuransi kesehatan adalah uang muka pembelian rumah pertama. “Juga mungkin dana pernikahan atau dana untuk melanjutkan studi kelak,” ujar dia.

Usia muda lekat dengan kehausan akan hal baru, termasuk melalui travelling. Anda bisa menganggarkan dana untuk keperluan itu sehingga kelak saat liburan, arus kas tidak terganggu. Sebagai contoh, untuk rencana liburan akhir tahun nanti Anda membutuhkan dana sekitar Rp 8,4 juta.Maka, mulai sekarang sisihkan Rp 700.000 per bulan di tabungan untuk memenuhinya

Nah, di antara rencana-rencana keuangan itu, perencanaan dana pensiun adalah yang paling utama perlu dikejar oleh para first jobber. Mungkin Anda bertanya-tanya, kok, aneh baru mulai kerja, malah sudah memikirkan pensiun?

Hal itu terkait dengan prinsip time value of money. Semakin awal memulai, beban kebutuhan investasi dana pensiun Anda ke depan akan lebih ringan. Taruh kata, usia Anda saat ini 23 tahun. Anda berniat pensiun di usia 55 tahun.

Dengan asumsi usia harapan hidup hingga 70 tahun dan rata-rata pengeluaran Rp 4 juta per bulan, maka kebutuhan dana pensiun Anda kelak mencapai Rp 55,13 miliar! Anda punya waktu 32 tahun untuk berinvestasi di produk investasi berimbal hasil 25% per tahun, senilai Rp 418.459 setiap bulan.

Bandingkan jika Anda memulai saat umur 30 tahun. Dengan asumsi sama, besar dana investasi yang harus Anda sisihkan sekitar Rp 1 juta setiap bulan atau hampir dua kali lipat dibandingkan ketika Anda memulai investasi dana pensiun tujuh tahun lebih cepat.

Pilih produk
Masih bingung cara menyusun rencana keuangan? Tenang, caranya tidak sulit, kok. Terlebih dulu, tentukan target dana Anda serta tujuan berikut target waktu penggunaan dana. Lalu, cari future value-nya. Setelah ketemu, hitung kebutuhan dana investasi berdasarkan future value tersebut.

Pakai asumsi imbal hasil produk investasi yang hendak Anda pakai. Sebagai contoh, kebutuhan dana uang muka rumah pertama sekitar Rp 100 juta. Anda berniat mengajukan KPR lima tahun lagi sehingga nilai kebutuhan uang muka itu jadi Rp 161,05 juta (future value).

Karena penggunaan dana masih lima tahun lagi, Anda bisa memanfaatkan produk investasi berimbal hasil rata-rata 25% per tahun. Dengan asumsi itu, besar dana yang harus Anda investasikan per bulan selama lima tahun adalah Rp 1,34 juta.

Manfaatkan fasilitas kalkulator investasi di internet maupun di smartphone untuk menghitung kebutuhan dana investasi atau bertanyalah kepada para perencana keuangan.

Lantas, apa produk investasi yang dipilih? “Reksadana tepat karena termasuk instrumen investasi yang tidak rumit bermodal ringan mulai Rp 100.000 per bulan,” kata Dini.

Aktifkan autoinvest agar kedisiplinan Anda dalam berinvestasi terjaga. Untuk rencana keuangan di bawah tiga tahun, Anda bisa memilih reksadana pasar uang atau reksadana pendapatan tetap. Di atas tiga tahun hingga lima tahun, gunakan reksadana campuran. Lalu, reksadana saham untukrencana keuangan di atas lima tahun.

Dengan mengatur keuangan sejak muda, Anda bertanggungjawab untuk masa depan!        o

Editor: Ruisa Khoiriyah


Terbaru