KONTAN.CO.ID - Bagi para pekerja yang merencanakan masa pensiun dalam waktu dekat, periode transisi dari masa produktif ke pensiun seringkali menjadi penentu kestabilan finansial jangka panjang.
Mengingat adanya perubahan pendapatan dan kebutuhan hidup, pemahaman mendalam mengenai kondisi neraca keuangan pribadi menjadi syarat mutlak agar masa tua tetap terjaga secara ekonomi.
Disiplin pada masa prapensiun sangat membantu dalam menjaga stabilitas keuangan saat arus kas dari pekerjaan tetap mulai berhenti.
Baca Juga: Gaji Hilang Usai PHK? Strategi Jitu Kelola Dana Pesangon PHK Anda
Melansir dari Yahoo Finance, terdapat empat kebiasaan finansial yang dapat diterapkan mulai sekarang untuk memastikan transisi menuju masa pensiun pada tahun 2026 berjalan lebih tenang dan terukur.
Kebiasaan-kebiasaan ini dirancang untuk memitigasi risiko defisit anggaran serta memastikan kebutuhan hidup tetap terpenuhi tanpa harus mengandalkan pinjaman.
1. Adaptasi Anggaran dengan Pengeluaran Pensiun
Calon pensiunan sangat disarankan untuk mulai membiasakan diri hidup dengan anggaran yang disesuaikan.
Secara umum, kebutuhan hidup setelah tidak lagi bekerja biasanya turun ke kisaran 55% hingga 80% dari total pendapatan terakhir sebelum pensiun.
Dengan melakukan simulasi pengeluaran lebih awal, calon pensiunan dapat mendeteksi pos pengeluaran mana yang masih bisa diefisiensikan.
Sebagai ilustrasi, jika seseorang memiliki pendapatan tahunan sebesar Rp 1,6 miliar, maka perkiraan kebutuhan dana yang diperlukan saat pensiun berada di rentang Rp 880 juta hingga Rp 1,28 miliar per tahun.
Mempraktikkan pola hidup dengan nominal tersebut sejak dini membantu individu memahami perubahan gaya hidup yang akan dihadapi. Langkah ini efektif untuk menghindari kejutan finansial serta membuat proses transisi menjadi lebih nyaman dan terkendali.
Baca Juga: Strategi Investasi Cerdas bagi Investor Muda untuk Membangun Kekayaan
2. Memperkuat Cadangan Dana Darurat
Dana darurat merupakan benteng pertahanan utama bagi individu yang akan hidup dengan pendapatan tetap.
Meskipun standar umum menyarankan ketersediaan dana darurat untuk kebutuhan minimal enam bulan, calon pensiunan idealnya memerlukan cadangan yang lebih besar.
Hal ini disebabkan oleh potensi peningkatan pengeluaran pada sektor kesehatan, perawatan jangka panjang, hingga pemeliharaan aset properti atau beban pajak yang mungkin meningkat.
Dikutip dari Yahoo Finance, penting bagi calon pensiunan untuk menyiapkan proyeksi kebutuhan pokok untuk jangka waktu lima hingga tujuh tahun ke depan. Proyeksi ini harus mencakup biaya kebutuhan dasar seperti:
- Konsumsi pangan dan nutrisi.
- Biaya bahan bakar dan transportasi.
- Pengeluaran utilitas (listrik, air, dan internet).
- Kebutuhan sandang dan kesehatan.
Penghitungan ulang biaya hidup secara berkala memastikan bahwa dana cadangan tetap realistis menghadapi inflasi dan perubahan harga pasar.
3. Tinjau Ulang Portofolio Investasi
Menjelang masa pensiun, fokus utama investasi harus bergeser dari pertumbuhan agresif menuju perlindungan nilai kekayaan (wealth preservation).
Anda perlu melakukan peninjauan berkala terhadap akun investasi untuk memastikan alokasi aset sudah sesuai dengan profil risiko yang lebih konservatif. Dalam fase ini, menjaga likuiditas dan meminimalkan eksposur pada aset dengan volatilitas tinggi menjadi prioritas.
Melansir dari Yahoo Finance, pendekatan yang umum digunakan dalam perencanaan penarikan dana adalah aturan 4% hingga 5% dari total tabungan pada tahun pertama pensiun.
Untuk tahun-tahun berikutnya, jumlah penarikan disesuaikan dengan tingkat inflasi yang berlaku. Melakukan simulasi penarikan ini sangat bermanfaat bagi calon pensiunan dalam menyusun strategi penempatan aset yang lebih aman dan berorientasi jangka panjang.
Tonton: BGN Tegaskan Tidak Ada Pemaksaan Jika Ada Sekolah Tolak MBG
4. Evaluasi Polis Anuitas dan Asuransi
Instrumen asuransi jiwa dan polis anuitas seringkali luput dari perhatian, padahal keduanya berperan besar dalam melindungi ahli waris dan pasangan.
Meninjau ulang manfaat polis sangat penting untuk memastikan proteksi yang ada masih relevan dengan kebutuhan saat ini.
Salah satu fokus utama adalah memastikan manfaat asuransi dapat membantu pasangan dalam proses pengelolaan aset pensiun atau menyediakan likuiditas saat terjadi risiko tak terduga.
Bagi mereka yang mempertimbangkan produk baru, polis yang menawarkan manfaat tambahan seperti perlindungan terhadap penyakit kronis atau layanan perawatan jangka panjang layak dipertimbangkan.
Kebutuhan medis biasanya meningkat seiring bertambahnya usia, sehingga asuransi dengan fitur komprehensif dapat menjadi katup pengaman agar tabungan pensiun tidak tergerus oleh biaya rumah sakit.
Dengan menerapkan strategi keuangan yang disiplin dan melakukan penyesuaian gaya hidup sejak dini, masa pensiun tidak lagi menjadi momok yang menakutkan, melainkan menjadi fase hidup yang dapat dinikmati dengan penuh ketenangan finansial.
Selanjutnya: Jadwal & Klasemen Proliga 2026: Laga Krusial Gresik Pupuk Indonesia vs Jakarta Livin
Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Rabu 28 Januari 2026, Energi Emosional
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News