KONTAN.CO.ID - Pemutusan Hubungan Kerja atau PHK sering kali datang tanpa peringatan, memaksa pekerja untuk segera melakukan penyesuaian gaya hidup.
Di tengah kondisi lapangan kerja yang kompetitif, tantangan terbesar bukan hanya soal mencari sumber pendapatan baru, melainkan bagaimana mempertahankan ketersediaan dana agar tidak habis sebelum mendapatkan pekerjaan pengganti. Pengelolaan dana pesangon yang terukur menjadi benteng pertahanan terakhir bagi stabilitas rumah tangga.
Disiplin dalam menyusun prioritas pengeluaran menjadi faktor penentu apakah seseorang mampu bertahan dalam masa transisi atau justru terjebak dalam krisis utang. Fokus utama saat ini adalah memastikan setiap Rupiah yang tersisa dialokasikan pada pos-pos yang memiliki nilai kegunaan jangka panjang.
Baca Juga: Strategi Investasi Cerdas bagi Investor Muda untuk Membangun Kekayaan
Simulasi Alokasi Dana Pesangon Rp 50 Juta
Sebagai gambaran realistis, asumsikan seorang pekerja mendapatkan total dana pesangon atau memiliki simpanan sebesar Rp 50 juta pasca PHK. Tanpa perencanaan yang matang, nominal ini terlihat besar namun sangat rentan habis dalam waktu singkat jika digunakan untuk konsumsi tanpa kendali.
Melansir dari OCBC, pengelolaan uang pesangon yang efektif melibatkan pemisahan dana berdasarkan jangka waktu pemakaian. Berikut adalah simulasi alokasi dana Rp 50 juta untuk bertahan selama 10 hingga 12 bulan:
- Dana Biaya Hidup Inti (60%): Alokasikan Rp 30 juta untuk kebutuhan dasar seperti makan, transportasi mencari kerja, dan tagihan listrik/air. Jika biaya hidup bulanan ditekan menjadi Rp 3.000.000, dana ini bisa bertahan selama 10 bulan.
- Dana Darurat Medis (15%): Simpan Rp 7.500.000 di rekening terpisah. Dana ini hanya boleh disentuh untuk kondisi darurat seperti biaya rumah sakit atau perbaikan rumah yang mendesak.
- Cadangan Pelunasan Kewajiban (15%): Gunakan Rp 7.500.000 untuk membayar cicilan minimum atau sebagai modal negosiasi keringanan cicilan kepada pihak bank.
- Investasi Peningkatan Keahlian (10%): Sisihkan Rp 5.000.000 untuk mengikuti pelatihan sertifikasi atau kursus singkat guna mempercepat proses mendapatkan pekerjaan baru.
Baca Juga: Kemandirian Finansial: Bangun Dana Darurat Ideal dalam 4 Langkah
Pemangkasan Biaya Esensial dan Gaya Hidup
Setelah menetapkan alokasi dana, langkah berikutnya adalah melakukan penghematan secara agresif. Dalam kondisi tanpa penghasilan tetap, setiap pengeluaran sekecil apa pun akan berdampak pada daya tahan finansial.
Dikutip dari situs Bank Sinarmas, strategi keuangan yang krusial jika terkena PHK adalah segera mengidentifikasi dan memotong biaya-biaya yang tidak berhubungan dengan kebutuhan pokok.
Masyarakat disarankan untuk melakukan evaluasi mandiri terhadap tagihan bulanan. Hal-hal seperti biaya langganan aplikasi hiburan, keanggotaan pusat kebugaran, hingga gaya hidup nongkrong di kafe harus dihentikan sementara waktu.
Audit keuangan ini penting untuk memastikan bahwa napas keuangan tidak terhenti di tengah jalan sebelum masa tunggu kerja berakhir.
Menjaga Arus Kas Tetap Mengalir
Kehabisan tabungan adalah risiko nyata jika individu hanya mengandalkan satu sumber dana tanpa mencari pemasukan tambahan kecil-kecilan. Strategi proaktif yang bisa diambil adalah mencari pendapatan dari sektor informal atau memanfaatkan keahlian yang sudah ada secara lepasan (freelance).
Dikutip dari OCBC, terdapat lima cara agar tetap aman secara finansial pasca kehilangan pekerjaan, salah satunya adalah dengan tidak membiarkan uang menganggur tanpa rencana.
Memulai usaha kecil berbasis rumah atau menawarkan jasa sesuai profesi sebelumnya bisa menjadi penyambung arus kas untuk menutupi biaya operasional harian tanpa harus menguras dana pesangon utama.
Langkah taktis untuk menjaga arus kas meliputi:
- Penyusunan Anggaran Harian: Tentukan batas maksimal pengeluaran harian, misalnya Rp 100.000 per hari, dan usahakan untuk tidak melampauinya.
- Prioritaskan Belanja di Pasar Tradisional: Mengalihkan belanja bulanan dari supermarket ke pasar tradisional dapat menghemat pengeluaran dapur hingga 20% sampai 30%.
- Pemanfaatan Manfaat JKP: Segera klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan dari BPJS Ketenagakerjaan untuk mendapatkan bantuan tunai bulanan yang dapat meringankan beban biaya hidup.
- Hindari Pinjaman Online: Sangat tidak disarankan mengambil pinjaman baru, terutama pinjaman online dengan bunga tinggi, untuk menutupi biaya hidup karena akan menciptakan beban bunga yang menghancurkan struktur keuangan di masa depan.
Tonton: Waspada, AS- Sekutu Kepung Iran, Konflik Timur Tengah Kembali Pecah?
Evaluasi Aset dan Instrumen Keuangan
Bagi masyarakat yang memiliki investasi dalam bentuk emas atau reksa dana, jangan terburu-buru melakukan pencairan massal. Namun, jika dana cadangan tunai sudah mulai menipis, lakukan pencairan secara bertahap hanya pada aset yang memiliki risiko rendah dan stabilitas harga yang baik.
Dilansir dari Bank Sinarmas, kesehatan mental memegang peranan vital dalam pengelolaan uang pasca PHK. Rasa panik sering kali mendorong seseorang untuk melakukan investasi spekulatif dengan harapan mendapatkan keuntungan cepat guna mengganti gaji yang hilang.
Padahal, dalam situasi transisi seperti ini, keamanan modal jauh lebih penting daripada potensi imbal hasil yang tinggi namun berisiko besar.
Mempertahankan objektivitas dalam melihat angka-angka di buku tabungan akan membantu seseorang tetap tenang dalam mengambil keputusan.
Dengan rencana yang disiplin, dana pesangon sebesar Rp 50 juta bisa menjadi modal yang cukup untuk menjaga martabat dan stabilitas finansial keluarga hingga pintu peluang kerja baru terbuka kembali.
Selanjutnya: Prakiraan Cuaca Mamuju & Mamuju Tengah Hari Ini (26/1), Cek Info BMKG
Menarik Dibaca: Ramalan 12 Zodiak Keuangan dan Karier Hari Ini Senin 26 Januari 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News