KONTAN.CO.ID - Bagi para pensiunan, memilih instrumen investasi yang mampu memberikan imbal hasil stabil dengan risiko yang terukur menjadi sangat krusial untuk menjaga kelangsungan hidup di hari tua.
Memasuki masa purnabakti, fokus pengelolaan keuangan seseorang tentu bergeser dari awalnya adalah fase akumulasi kekayaan menjadi fase preservasi atau perlindungan aset.
Kebutuhan akan likuiditas dan keamanan modal utama menjadi prioritas, mengingat jangka waktu investasi yang cenderung lebih pendek dibandingkan saat masih di usia produktif.
Pemilihan aset yang tepat tidak hanya berfungsi untuk melawan inflasi, tetapi juga memastikan dana yang dikumpulkan selama puluhan tahun tidak tergerus oleh volatilitas pasar yang ekstrem.
Baca Juga: Modal Kecil Bisa Untung? Pahami Dulu Mekanisme Pasar ETF
Instrumen Investasi dengan Risiko Terukur
Beberapa instrumen investasi konvensional tetap menjadi pilihan utama karena karakteristiknya yang defensif.
Dilansir dari laman SmartAsset, sertifikat deposito dan surat utang negara merupakan opsi yang populer karena menawarkan tingkat kepastian yang tinggi bagi pemilik dana dalam jangka panjang.
Berikut adalah beberapa pilihan investasi yang dinilai aman untuk masa pensiun:
- Surat Berharga Negara (SBN): Instrumen ini diterbitkan oleh pemerintah sehingga keamanannya dijamin oleh undang-undang. Produk seperti Obligasi Negara Ritel (ORI) atau Sukuk Ritel (SR) memberikan kupon rutin setiap bulan ke rekening investor.
- Logam Mulia (Emas): Investasi emas sering dianggap sebagai aset pelindung nilai (safe haven). Dikutip dari laman Sahabat Pegadaian, emas memiliki nilai yang cenderung stabil dan sangat efektif untuk melindungi kekayaan dari penurunan nilai mata uang akibat inflasi dalam jangka panjang.
- Deposito Berjangka: Produk perbankan ini menawarkan bunga tetap dengan proteksi dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) selama nominal dan bunganya memenuhi kriteria yang ditetapkan.
- Reksa Dana Pasar Uang: Instrumen ini menempatkan dana pada aset jangka pendek, seperti deposito dan obligasi dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun, sehingga memiliki fluktuasi harga yang sangat rendah.
Cara Mendaftar dan Memulai Investasi
Bagi pensiunan yang ingin mulai mengalihkan dananya ke instrumen profesional, langkah-langkah yang diambil harus dilakukan dengan teliti guna menghindari kesalahan penempatan aset.
Mengutip situs resmi Bank Sinarmas, proses investasi saat ini sudah jauh lebih mudah melalui platform digital perbankan maupun perusahaan sekuritas terpercaya.
Berikut adalah tahapan umum untuk memulai investasi bagi pensiunan:
- Menentukan Profil Risiko: Memahami sejauh mana toleransi terhadap fluktuasi nilai aset sebelum memilih produk agar kondisi psikologis tetap tenang di masa tua.
- Membuka Rekening Dana Nasabah (RDN): Jika ingin berinvestasi di pasar modal atau membeli surat utang, nasabah perlu mendaftar melalui bank atau agen penjual resmi.
- Melengkapi Dokumen Identitas: Menyiapkan KTP dan NPWP untuk proses verifikasi data nasabah (Know Your Customer/KYC) sesuai regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
- Alokasi Dana: Melakukan transfer dana dalam Rupiah sesuai dengan nominal investasi yang direncanakan tanpa mengganggu dana darurat yang bersifat cair.
Tonton: Smelter Nikel Terancam Krisis Pasokan Imbas Pemangkasan RKAB, Hilirisasi Tersendat?
Menyeimbangkan Imbal Hasil dan Likuiditas
Dalam menyusun portofolio pensiun, aspek likuiditas menjadi hal yang tidak boleh dikesampingkan. Dana pensiun harus tetap tersedia apabila terjadi kebutuhan mendesak, seperti biaya kesehatan yang tidak terduga.
Instrumen seperti reksa dana pasar uang memberikan fleksibilitas tinggi karena proses pencairannya yang relatif cepat dibandingkan dengan aset fisik.
Meskipun keamanan adalah kunci, beberapa strategi manajemen kekayaan menyarankan agar pensiunan tetap memiliki sedikit eksposur pada aset yang memberikan imbal hasil lebih optimal.
Melansir dari U.S. News, diversifikasi ke dalam obligasi korporat berkualitas tinggi atau saham yang membagikan dividen secara rutin dapat menjadi tambahan pendapatan yang signifikan, selama porsinya tetap terkendali dan tidak mendominasi total portofolio.
Sebagai ilustrasi, penempatan dana sebesar Rp 100.000.000 pada instrumen dengan imbal hasil tetap 6% per tahun dapat memberikan aliran kas yang stabil untuk membantu biaya operasional bulanan.
Selain itu, emas juga bisa menjadi pilihan karena kemudahannya untuk dicairkan kembali (likuid) saat dibutuhkan dalam keadaan mendesak.
Investasi di masa pensiun bukanlah tentang mencari kekayaan secara instan, melainkan tentang bagaimana memastikan uang tersebut bekerja secara konsisten untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Konsultasi dengan penasihat keuangan profesional sangat disarankan bagi para pensiunan yang ingin melakukan diversifikasi aset dalam jumlah besar guna menghindari risiko penipuan yang menjanjikan keuntungan tidak masuk akal.
Selanjutnya: LPDP 2026 Dibuka! Cek Cara Daftar Beasiswa Penuh untuk Magister dan Doktor Ini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News