KONTAN.CO.ID - Menghadapi pemutusan hubungan kerja (PHK) merupakan tantangan berat bagi setiap pekerja, terutama dalam menjaga stabilitas kondisi finansial keluarga.
Di tengah situasi ekonomi yang dinamis, pengelolaan dana pesangon dan pengaturan ulang anggaran menjadi kunci utama agar ketahanan keuangan tetap terjaga hingga mendapatkan pekerjaan baru.
Langkah awal yang paling krusial justru terjadi pada periode singkat setelah kehilangan pekerjaan. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Investopedia, keputusan yang diambil dalam 48 jam pertama pasca PHK dapat sangat menentukan keberlangsungan finansial seseorang di masa mendatang.
Baca Juga: Awas Jebakan Emosi! Ini Alasan Investor Gagal Cuan di Pasar Modal
Pada fase ini, individu disarankan untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan finansial besar, melainkan fokus pada penilaian aset yang tersedia.
Salah satu fokus utama adalah pengelolaan dana pesangon. Tanpa perencanaan yang matang, uang tunai dalam jumlah besar tersebut berisiko habis untuk konsumsi jangka pendek yang tidak produktif.
Tahapan Mengelola Dana Pesangon agar Tidak Boros
Mengutip laman resmi BCA Life, terdapat beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan agar dana pesangon tidak menguap begitu saja:
- Melunasi Utang Berbunga Tinggi: Prioritaskan sebagian dana pesangon untuk melunasi cicilan atau utang yang memiliki bunga besar, seperti kartu kredit, guna mengurangi beban pengeluaran bulanan.
- Memisahkan Dana Darurat: Pastikan ketersediaan dana darurat yang cukup untuk meng-cover biaya hidup minimal 3 hingga 6 bulan ke depan.
- Menghindari Investasi Spekulatif: Jangan menempatkan dana pesangon pada instrumen investasi yang berisiko tinggi atau belum dipahami hanya karena tergiur keuntungan instan.
- Membatasi Pengeluaran Non-Primer: Fokuskan penggunaan dana hanya untuk kebutuhan pokok seperti pangan, tempat tinggal, dan kesehatan.
Efisiensi Anggaran dan Penyesuaian Gaya Hidup
Setelah mengamankan pesangon, langkah berikutnya adalah melakukan audit total terhadap arus kas.
Melansir OCBC, ketika gaji bulanan berhenti mengalir, penyesuaian gaya hidup menjadi hal yang tidak bisa ditawar. Penggunaan dana harus dialihkan sepenuhnya pada pos-pos pengeluaran wajib.
Selain itu, penting bagi pekerja yang terdampak PHK untuk segera memeriksa hak-hak lain di luar pesangon, seperti klaim jaminan kehilangan pekerjaan atau pencairan saldo dana pensiun jika memungkinkan.
Langkah ini membantu memperpanjang napas finansial sebelum cadangan dana benar-benar menipis.
Dikutip dari CNBC, pakar keuangan menyarankan agar individu segera menyusun daftar inventaris seluruh aset likuid dan kewajiban.
Hal ini termasuk memeriksa cakupan asuransi kesehatan, karena perlindungan kesehatan dari perusahaan biasanya akan berakhir seiring dengan selesainya masa kontrak kerja.
Tonton: Harga Beras Dunia Tertekan 2026! India, Thailand & Vietnam Berebut Pasar, Petani Terjepit?
Taktik Jaga Arus Kas Tetap Aman
Untuk menjaga agar kondisi keuangan tidak terperosok lebih dalam, terdapat beberapa taktik tambahan yang bisa diterapkan:
- Hentikan Layanan Langganan (Subscription): Matikan sementara layanan hiburan atau aplikasi berbayar yang tidak mendesak.
- Negosiasi Kewajiban: Jika memiliki cicilan produktif seperti KPR, cobalah berkomunikasi dengan pihak bank untuk mendapatkan restrukturisasi atau penundaan pembayaran sementara.
- Mencari Pendapatan Sampingan: Memanfaatkan keahlian yang ada untuk pekerjaan lepas (freelance) guna menjaga aliran kas kecil masuk ke kantong.
Disiplin dalam mencatat setiap pengeluaran, sekecil apa pun, menjadi faktor pembeda antara mereka yang berhasil bertahan dan mereka yang terjebak dalam krisis keuangan lebih lanjut.
Dengan strategi yang tepat, masa transisi karir dapat dilalui dengan risiko finansial yang lebih terkendali.
Selanjutnya: Meminjam Istilah Trump, Industri Reksadana Jalani Tremendous Year di Tahun 2025
Menarik Dibaca: Ciri Pola Pikir Keuangan yang Bisa Menumbuhkan Aset dan Buat Anda Terjebak Utang
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News