Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.578
  • SUN95,67 0,00%
  • EMAS656.000 -0,46%

Anda karyawan zaman now yang masih gamang berinvestasi? Ini kiat membangun nyali

Minggu, 18 Maret 2018 / 09:03 WIB

Anda karyawan zaman now yang masih gamang berinvestasi? Ini kiat membangun nyali
ILUSTRASI. Ilustrasi Opini - Sumpah Pemuda dan Generasi Milenial

Berita Terkait

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Sudah hampir empat tahun bekerja sebagai karyawan swasta, Dian Hapsari tak kunjung berinvestasi. Padahal perempuan 26 tahun ini tahu betul, apa itu investasi.

Dian beralasan, dirinya sampai sekarang masih memikirkan risiko investasi. “Masih takut kena tipu juga. Takut penyedianya bodong,” kata Dian.


Melvin Mumpuni, Perencana Keuangan Finansialku.com, menemukan fakta bahwa delapan dari sepuluh karyawan milenial, yang lahir awal 1980 hingga pertengahan 1990, belum berinvestasi. 

Menurut pengamatan Melvin, ada lima faktor yang membuat karyawan dari generasi Y masih enggan berinvestasi.

Pertama, masih banyak karyawan milenial yang menganggap investasi hanya untuk orang kaya lantaran butuh modal besar. Bahkan, sebagian dari mereka menyatakan, gajinya kecil sehingga susah jika mau berinvestasi.

Kedua, banyak karyawan milenial yang berpikir risiko investasi tinggi. Memang, sangat jelas, semua produk investasi punya risiko. Namun, Melvin menegaskan, tidak berinvestasi pun tetap berisiko bagi generasi Y. Misalnya, enggak bisa mengejar tujuan keuangan jangka panjang.

Ketiga, investasi pasti rugi atau uang hilang. Padahal, jelas tidak seperti itu. Sebaliknya, ketika karyawan milenial mendiamkan uangnya di tabungan, akan berkurang nilainya akibat inflasi. Maklum, bunga tabungan yang kecil kalah dengan laju inflasi. 

Keempat, ada banyak biaya tambahan. Sebenarnya, Melvin menjelaskan, tidak semua produk investasi mengenakan biaya tambahan. Walaupun, sebagian besar memang memungut biaya administrasi, platform, data, dan lain sebagainya.

Kelima, uang dikunci atau tidak bisa diambil sewaktu-waktu. Pada kenyataanya, Melvin menyebutkan, banyak produk investasi yang bisa dicairkan sewaktu-waktu. Contoh, reksadana yang bisa dicairkan satu hari setelah Anda beli.

Pentingnya tujuan ivestasi

Nah, agar karyawan milenial benar-benar berani berinvestasi, Melvin berpendapat, mereka memang harus tahu lebih dulu tujuannya apa. Misalnya, untuk mengumpulkan biaya pernikahan atau pembayaran uang muka atawa down payment (DP) kredit pemilikan rumah (KPR). Tujuan keuangan ini bisa mereka jadikan motivasi untuk berinvestasi.

Selanjutnya, pekerja milenial mesti meningkatkan pengetahuan mengenai produk-produk investasi untuk mengejar tujuan keuangan tersebut. Mereka kudu mencari tahu, untuk bisa meraih tujuan keuangan itu, dengan menggunakan produk investasi apa.

Melvin mengingatkan, justru di tahun-tahun awal bekerja, karyawan milenial harus segera berinvestasi. Soalnya, jika sudah di puncak karier, mereka tidak bisa coba-coba lagi berinvestasi.

Walhasil, lebih baik jatuh di usia awal, ketimbang ketika sudah berada di puncak. “Usia di bawah 35 harusnya sudah mulai investasi. Usia 35 sampai 40 tahun sudah masuk akselerasi. Sekarang waktunya belajar,” saran Melvin.

Reporter: Francisca Bertha Vistika
Editor: Hasbi Maulana

Video Pilihan

Tag
TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0007 || diagnostic_api_kanan = 0.0571 || diagnostic_web = 0.3901

Close [X]
×