Anggaran

6 Jebakan Pengeluaran Kelas Menengah yang Cepat Menguras Kekayaan Anda

Sabtu, 17 Januari 2026 | 07:50 WIB
6 Jebakan Pengeluaran Kelas Menengah yang Cepat Menguras Kekayaan Anda

ILUSTRASI. 6 Jebakan Pengeluaran Kelas Menengah yang Cepat Menguras Kekayaan Anda. (dok./Kontan)


Sumber: New Trader U  | Editor: Tiyas Septiana

KONTAN.CO.ID -  Strategi pengelolaan keuangan bagi kelas menengah kini tengah mengalami perubahan besar seiring dengan dinamika ekonomi global.

Keputusan belanja yang dulunya dianggap wajar sebagai simbol kemapanan, kini justru berpotensi menjadi penghambat utama dalam memupuk kekayaan.

Melansir laporan dari New Trader U, pola finansial yang dianggap aman pada tahun 2015 atau bahkan 2020 sudah tidak lagi relevan dengan kondisi saat ini.

Baca Juga: 4 Langkah Kunci Sukses Investasi Jangka Panjang Walau Modal Terbatas

Tekanan inflasi dan tingginya suku bunga mengubah banyak tolok ukur kesuksesan finansial menjadi beban yang memberatkan.

Berikut adalah tujuh kategori pengeluaran yang perlu diwaspadai karena dapat menguras kantong rumah tangga kelas menengah secara signifikan.

1. Jebakan Ponsel Pintar Kelas Atas

Perbedaan performa antara ponsel pintar keluaran tiga tahun lalu dengan model flagship terbaru saat ini sebenarnya tidak terlalu terasa bagi pengguna biasa.

Namun, banyak orang tetap memaksakan diri membeli perangkat seharga US$ 1.200 atau setara Rp 20.290.800 (kurs Rp 16.909) hanya demi gengsi.

Jika dihitung secara matematis, mengganti ponsel seharga Rp 20,29 juta setiap dua tahun berarti mengeluarkan biaya sekitar Rp 10,14 juta per tahun.

Bandingkan jika Anda membeli ponsel biasa seharga seharga Rp 2.000.000-an hingga Rp 6.000.000-an untuk pemakaian empat tahun, yang hanya memakan biaya Rp 1,69 juta per tahun bahkan kurang dari itu. Selisih dana ini akan jauh lebih bermanfaat jika dialokasikan ke instrumen investasi.

2. Cicilan Mobil Baru yang Menguras Tabungan

Membeli mobil baru kini menjadi salah satu cara tercepat merusak kondisi keuangan kelas menengah. Mengutip New Trader U, harga mobil baru yang kini banyak melampaui US$ 50.000 atau sekitar Rp 845.450.000, ditambah bunga kredit yang tinggi, menciptakan beban finansial yang berat.

Di Indonesia sendiri, harga mobil baru terpantau mencapai angka ratusan juta Rupiah dengan layanan kredit bulanan cukup tinggi.

Penyusutan nilai aset (depresiasi) yang terjadi segera setelah mobil keluar dari dealer sering kali menghapus jatah tabungan setahun dalam sekejap.

Membeli mobil bekas berkualitas usia tiga hingga lima tahun dengan harga setengahnya, merupakan pilihan yang jauh lebih bijak untuk mempertahankan kekayaan.

Baca Juga: Alokasi Dana 50/30/20: Langkah Awal Kunci Kebebasan Finansial Anda

3. Langganan Layanan yang Tidak Terpakai

Banyak rumah tangga tidak sadar bahwa saldo mereka terus terpotong oleh biaya langganan aplikasi atau layanan streaming yang jarang ditonton.

Biaya bulanan sekitar US$ 10 hingga US$ 15 (Rp 169.090 hingga Rp 253.635) mungkin terlihat kecil, namun jika dijumlahkan dari berbagai aplikasi, nilainya menjadi sangat besar.

Strategi yang lebih efektif adalah dengan berlangganan satu layanan saja secara bergantian. Matikan langganan yang sudah tidak ditonton, lalu aktifkan kembali jika memang ada konten baru yang ingin dinikmati.

4. Budaya Fast Fashion dan Barang Murah

Membeli baju murah seharga puluhan ribu Rupiah yang cepat rusak setelah beberapa kali cuci sebenarnya jauh lebih boros dibandingkan membeli pakaian berkualitas seharga ratusan ribu Rupiah yang awet hingga lima tahun.

Jebakan barang murah ini juga sering ditemui pada peralatan dapur dan elektronik kualitas rendah. Berinvestasi pada barang yang sedikit lebih mahal namun memiliki daya tahan lama, seperti alat masak besi atau sepatu yang bisa diperbaiki solnya, akan menghemat pengeluaran jangka panjang.

5. Biaya Tambahan Makanan Olahan

Banyak orang rela membayar mahal untuk kenyamanan, seperti sayur yang sudah dipotong atau salad dalam kemasan.

Padahal, harga barang-barang praktis ini umumnya lebih mahal dibandingkan bahan mentah yang diolah sendiri.

Berikut adalah beberapa langkah untuk menghindari "pajak kenyamanan" ini:

  • Menyisihkan waktu di akhir pekan untuk memotong dan menyiapkan bahan masakan sendiri.
  • Membeli bahan makanan dalam jumlah besar (bulk) untuk mendapatkan harga lebih murah.
  • Membuat daftar belanja agar tidak tergiur membeli produk kemasan yang mahal.

Tonton: DSI Pakai Skema Ponzi Berkedok Syariah

6. Membeli Rumah yang Terlalu Besar

Memaksakan diri mengambil cicilan rumah sebesar mungkin sesuai batas maksimal kredit adalah langkah yang berisiko.

Rumah yang terlalu besar sering kali membuat pemiliknya menjadi "miskin rumah", di mana mereka memiliki aset mentereng namun tidak punya uang tunai untuk investasi atau keperluan darurat.

Biaya perawatan, tagihan listrik, hingga pajak bangunan pada rumah besar akan terus menyedot penghasilan setiap bulan.

Memilih hunian yang lebih efisien dan sesuai kebutuhan akan memberikan ruang bernapas bagi kondisi keuangan keluarga di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.

Selanjutnya: HP Murah dengan Helio G99: Skor AnTuTu 400 Ribuan, Baterai Lebih Awet

Menarik Dibaca: HP Murah dengan Helio G99: Skor AnTuTu 400 Ribuan, Baterai Lebih Awet

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tag

Terbaru