KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Masyarakat pekerja Indonesia sepertinya masih sulit lepas dari status generasi sandwich. Kendati kesadaran menyiapkan dana untuk masa pensiun makin besar, kemampuan melakukan tersebut masih terbatas.
Ini terungkap dalam riset Bank DBS Indonesia dan DBS Foundation bertajuk Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita. Ada beberapa faktor yang membuat status generasi roti lapis sulit dilepaskan bagi sebagian besar orang.
Pertama, tingkat kesuburan yang menurun. Riset DBS menemukan, indeks Total Fertility Rate (TFR) Indonesia turun dari 3,11 pada awal 1990-an menjadi 2,13 anak per perempuan pada 2024. Indeks tersebut diproyeksikan mencapai 1,97 anak per perempuan pada 2045.
Sementara itu, jumlah pernikahan juga turun dari 2,01 juta pada 2018 menjadi 1,48 juta pada 2025.
Struktur keluarga yang semakin kecil menjadikan semakin sedikit anggota keluarga usia produktif yang dapat berbagi tanggung jawab finansial dan perawatan orang tua. Kondisi ini mengakibatkan tekanan sandwich generation berpotensi meningkat.
Baca Juga: Survei Manulife: Generasi Sandwich Indonesia Kesulitan Siapkan Dana untuk Hari Tua
Kedua, DBS Foundation mendapati, sebanyak 55,32% lansia masih bekerja. Dari jumlah tersebut, 84,75% di antaranya berada di sektor informal.
Di tingkat nasional, 59,42% tenaga kerja juga berada di sektor informal dengan tingkat pendapatan rendah, tidak menentu, serta minimnya akses terhadap pada tunjangan ketenagakerjaan.
Kondisi ini membuat sebagian masyarakat memiliki akses yang lebih terbatas terhadap pekerjaan berproduktivitas tinggi maupun skema pensiun formal.
Ketiga, sekitar 82,96% rumah tangga lansia bergantung pada penghasilan dari anggota keluarga yang bekerja. Hanya kurang dari 1% yang kehidupan ekonominya berasal dari tabungan dan investasi.
Kondisi ini menunjukkan, tanpa persiapan lebih dini, kebutuhan finansial masa tua akhirnya harus ditopang oleh generasi produktif berikutnya. Faktor ini juga mempersulit seseorang lepas dari status sandwich generation.
Baca Juga: Gejala FOMO Sulit Lepas dari Tren? Ini Pertanda Anda Perlu Waspada
Keempat, faktor literasi dan inklusi keuangan juga berpengaruh besar. DBS Foundation mencatat, pada kelompok usia 18–50 tahun, inklusi keuangan telah mencapai kisaran 93,5%–95,1%. Sementara literasi keuangan di kelompok ini berada pada kisaran 72,1%–74,1%.
Akan tetapi, akses layanan keuangan masih didominasi layanan perbankan, mencapai 65,5%. Sedangkan kepemilikan tabungan atau dana pensiun masih minim, hanya sebesar 5,37%. Padahal, pemahaman tentang pentingnya dana pensiun sudah mencapai 27,79%.
Kesenjangan tersebut menunjukkan perlu adanya skema dana pensiun yang lebih fleksibel bagi sektor informal dan wiraswasta. Dengan demikian, cakupan program pensiun lebih luas.
Karena itu, DBS Foundation menilai, membangun pemahaman untuk memanfaatkan produk dan layanan keuangan yang tepat akan meningkatkan kapasitas keuangan jangka panjang.
Untuk membantu masalah sandwich generation ini, juga untuk membantu memberi peluang persiapan masa pensiun yang lebih baik, Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation menghadirkan Retirement Goal Calculator. Produk ini diharap membantu masyarakat mendapatkan gambaran kebutuhan finansial masa depan yang lebih konkret.
Baca Juga: Risiko Finansial di Masa Pensiun Mengintai! Siapkan Asuransi Seumur Hidup
Mona Monika, Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, menjelaskan, kalkulator ini memungkinkan pengguna memproyeksikan kebutuhan berdasarkan target usia pensiun, pengeluaran dan gaya hidup yang diinginkan, serta asumsi inflasi dan imbal hasil investasi, sehingga perencanaan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing.
“Kami berkomitmen untuk mendukung kesiapan masyarakat rentan agar lebih tangguh secara sosial dan finansial melalui peningkatan akses pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, literasi dan inklusi keuangan hingga persiapan pensiun,” tutur Mona.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News