KONTAN.CO.ID - Harga emas batangan bersertifikat di Logam Mulia milik PT Aneka Tambang (ANTM) mengalami penurunan tajam. Pada perdagangan Selasa (5/5), harga emas Antam merosot Rp 35.000 per gram, dari sebelumnya Rp 2.795.000 menjadi Rp 2.760.000 per gram.
Di lain sisi, harga beli kembali (buyback) oleh Logam Mulia turun lebih dalam sebesar Rp 40.000 per gram, kini bertengger di angka Rp 2.545.000 per gram.
Penurunan ini menghasilkan selisih harga jual dan harga beli (spread) yang sangat tebal, yaitu Rp 215.000 per gram.
Angka selisih yang besar ini menjadi bukti kuat mengapa emas batangan murni merupakan instrumen investasi jangka panjang, bukan alat spekulasi jangka pendek.
Baca Juga: Cara Hitung Cicilan KPR yang Aman, Simak Simulasi Bunga dan Syaratnya
Jebakan "Beli Pagi, Jual Sore"
Bagi investor pemula, sangat penting untuk mencermati dua jenis harga yang ditetapkan Antam:
- Harga Emas (Harga Jual Gerai): Harga yang Anda bayar saat membeli emas dari Logam Mulia.
- Harga Buyback: Harga yang Anda terima saat menjual kembali emas tersebut ke Logam Mulia.
Sebagai gambaran nyata, jika Anda membeli 1 gram emas Antam pagi ini, Anda harus membayar Rp 2.760.000. Namun, jika siang atau sore harinya Anda tiba-tiba membutuhkan uang mendesak dan terpaksa menjualnya kembali, jangan kaget jika Logam Mulia hanya menghargai emas Anda sebesar Rp 2.545.000. Dalam hitungan jam, Anda sudah mengalami kerugian langsung sebesar Rp 215.000 per gram.
Tanpa memperhitungkan perbedaan dua harga ini, seorang investor berisiko besar salah menghitung potensi untung dan rugi portofolio mereka.
Baca Juga: Panduan Investasi Emas Antam untuk Pemula: Langkah Strategis Memulai Koleksi Pertama
Bukti Data: Baru Merasakan Cuan Setelah Disimpan Lama
Untuk melihat bagaimana spread ini memengaruhi keuntungan, mari bedah kalkulasi potensi untung/rugi andaikata Anda membeli emas Antam pada berbagai kurun waktu berbeda, dan menjualnya hari ini dengan harga buyback Rp 2.545.000 per gram:
- Jangka Pendek (Di bawah 6 Bulan) – Masih Rugi (Floating Loss):
- Beli 28 April 2026 (Rp 2.814.000) \(\rightarrow \) Rugi -9.56%
- Beli 05 April 2026 (Rp 2.857.000) \(\rightarrow \) Rugi -10.92%
- Beli 05 Februari 2026 (Rp 2.956.000) \(\rightarrow \) Rugi -13.90%
- Jangka Menengah (6 Bulan hingga 1 Tahun) – Mulai Berbalik Untung:
- Beli 05 November 2025 (Rp 2.260.000) \(\rightarrow \) Untung +12.61%
- Beli 05 Agustus 2025 (Rp 1.959.000) \(\rightarrow \) Untung +29.91%
- Beli 05 Mei 2025 (Rp 1.905.000) \(\rightarrow \) Untung +33.60%
- Jangka Panjang (Di atas 1 Tahun) – Menikmati Profit Tebal:
- Beli 05 Februari 2025 (Rp 1.663.000) \(\rightarrow \) Untung +53.04%
- Beli 05 November 2024 (Rp 1.539.000) \(\rightarrow \) Untung +65.37%
- Beli 05 Agustus 2024 (Rp 1.420.000) \(\rightarrow \) Untung +79.23%
Baca Juga: Cara Menghitung Keuntungan Saham: Pahami Satuan Lot dan Rasio ROI Bagi Pemula
Data historis di atas membuktikan secara riil bahwa investor yang membeli emas di awal tahun 2026 masih terjebak zona merah. Sebaliknya, investor yang telah menimbun emas sejak tahun 2024 atau pertengahan 2025 sudah menikmati keuntungan manis hingga puluhan persen karena kenaikan harga pasar berhasil melampaui tebalnya nilai spread.
Kalkulasi potensi untung-rugi di atas baru hitungan kasar di atas kertas. Dalam transaksi riil, performa investasi Anda akan sedikit tergerus oleh komponen biaya lain yang belum dimasukkan dalam tabel, seperti Pajak Pertambahan Nilai (PPN) .
Emas adalah pelindung nilai (hedging) kekayaan yang sangat perkasa terhadap inflasi, dengan catatan Anda bersedia menyimpannya dalam jangka waktu minimal 1 hingga 2 tahun ke depan. Jangan gunakan uang dapur atau dana darurat jangka pendek untuk membeli emas batangan jika tidak ingin merugi akibat potongan spread.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News