: WIB    --   
indikator  I  

Suami atau istri yang berhenti kerja?

Suami atau istri yang berhenti kerja?

Dewi sedang galau berat. Dilema: berhenti atau tetap bekerja.

Bukan pilihan yang gampang, apalagi tahun lalu gajinya naik tinggi, sekitar 35%. Dan tahun ini, gajinya bakal tambah lagi 15%.

Tapi, kalau enggak berhenti kerja, anak-anak Dewi tak ada yang menjaga. Tenaga medis di lingkungan pemerintahan Provinsi DKI Jakarta ini tidak kunjung mendapat pengasuh pengganti buat kedua anaknya.

“Untuk sementara anak-anak saya titipkan di rumah ibu di daerah Tangerang,” katanya.

Kegalauan Dewi juga melanda banyak pasangan lainnya. Maklum, istri terpaksa berhenti kerja, apalagi sudah bertahun-tahun berkarier, bukan cuma butuh kesiapan mental, juga kesiapan keuangan.

Siapkah biaya rumahtangga kelak hanya berasal dari penghasilan tunggal atawa single income?

Tapi, pilihan mau tidak mau harus diambil. Dan, Deny Yuliansari, misalnya, memutuskan berhenti bekerja awal 2016.

Memang, sulit mendapat pengasuh untuk sang buah hati bukan jadi alasan perempuan yang lima tahun bekerja ini mengundurkan diri dari pekerjaannya. “Keputusan tidak bekerja lagi karena saya mau fokus menjaga kehamilan,” ujar dia.

Selain itu, Deny tidak ingin menyerahkan urusan pengasuhan anaknya yang kini berusia enam bulan ke baby sitter, terlebih ke orangtuanya. “Usia orangtua saya bukan lagi untuk mengasuh bayi. Kasihan kalau mereka saya titipkan,” ungkap wanita 28 tahun ini.

Tentu, keputusan Deny berhenti bekerja berdasar keputusan bersama dengan suaminya. Dan, sebelum memutuskan resign, ia dan sang suami sudah menyiapkan tabungan yang jumlahnya kurang lebih empat kali gaji mereka berdua.

Untuk menambah penghasilan keluarga, Deny menerima permintaan menulis artikel dan menerjemahkan tulisan bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia atau sebaliknya. Ia juga rajin menulis di blog-nya agar kelak bisa menghasilkan duit.

Budaya dan gaji

Ya, saat pasangan harus berhadapan dengan pilihan: siapa yang harus berhenti bekerja, biasanya istri yang mengalah dengan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Bagi sebagian pasangan, bisa jadi finansial bukan jadi pertimbangan utama istri berhenti bekerja sekalipun gajinya lebih besar dari si suami.

Namun, lebih kepada hubungan sosial. “Budaya kita masih melihat laki-laki sebagai pencari nafkah,” ungkap Eko Endarto, Perencana Keuangan Finansia Consulting.

Tapi, budaya itu tidak berlaku dengan Victor Buala. Pria 60 tahun ini justru yang berhenti bekerja ketika itu, bukan sang istri.

Keputusan tersebut berawal saat kantor tempatnya bekerja mengalami krisis. Victor yang waktu itu berumur 43 tahun diberi pilihan: mundur dengan pesangon hanya tiga kali gaji atau tetap bekerja dengan bayaran yang minim.

Lantaran pekerjaan sang istri lebih berpeluang besar untuk membiayai kehidupan keluarganya termasuk biaya sekolah ketiga anaknya, Viktor pun berhenti kerja dan jadi bapak rumahtangga. “Ada kesepakatan dengan istri,” ucap dia.

Sebagai modal awal, Viktor memiliki simpanan yang nilainya sebesar tiga kali gajinya, plus pesangon tiga kali penghasilannya. Tentu, ia tak semata mengandalkan pendapatan istrinya.

Di sela-sela mengurus anak dan rumah, ia menawarkan jasa mengantarkan kue dan antar jemput anak sekolah.

Betul, gaji yang lebih besar dan karier yang lebih bagus juga jadi pertimbangan utama buat pasangan kala memutuskan siapa yang berhenti kerja: suami atau istri. Freddy Pieloor, Perencana Keuangan MoneynLove Planning & Consulting, mengatakan, baik istri maupun suami sama-sama memiliki peluang untuk mengurus anak dan keluarga di rumah.

Cuma, Freddy mengingatkan, keluar dari pekerjaan memang bukan pilihan yang gampang. Untuk itu, pasangan harus berdiskusi dengan hati tenang.

“Yang juga jadi pertimbangan, pilih siapa yang lebih leluasa dan lebih baik melakukan banyak hal di rumah,” imbuhnya. Setelah ada keputusan siapa yang berhenti kerja, baik suami ataupun istri harus terbuka dengan masalah keuangan.

Memang, Eko bilang, tidak ada aturan baku, siapa yang harus mengundurkan diri dari pekerjaan: suami atau istri.

“Disepakati bersama. Yang jelas, harus mempertimbangkan semua kebutuhan dan kepentingan keluarga. Dan satu lagi, setelah diputuskan, harus siap dan yakin dengan menjalankan semua konsekuensi, baik secara sosial, finansial, maupun konsekuensi lainnya,” beber dia.

Hanya, yang tidak kalah penting, sebelum memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan dan jadi ibu atau bapak rumahtangga, Freddy dan Eko kompak mengatakan, persiapkan dulu finansial Anda.

  • Arus kas

Menurut Freddy, hitung dulu pengeluaran rumahtangga per bulan setelah istri atau suami tidak bekerja lagi. Jangan sampai ketika sudah mengundurkan diri, arus kas alias cash flow Anda jadi minus.

Jangankan menabung dan berinvestasi, untuk kebutuhan primer saja sulit untuk memenuhinya.

Setelah mengundurkan diri dari pekerjaan, Eko menegaskan, jelas penghasilan bulanan keluarga jadi berkurang. Sehingga, di awal-awal istri atau suami tak lagi bekerja, pasangan harus melakukan penyesuaian biaya hidup.

Alhasil, Anda mesti mengubah gaya hidup. “Sesuaikan pengeluaran dengan pemasukan,” tegas Eko.

  • Tabungan

Kalau mau keluar dari pekerjaan, Freddy bilang, memang sebaiknya harus punya tabungan dulu. Sejatinya, tidak ada jumlah ideal simpanan.

Asal gaji dari salah satu sumber sudah cukup, tujuan keuangan keluarga bisa tercapai.

Tapi, paling bagus memiliki simpanan yang besarannya dua tahun gaji. Itu yang paling aman, menurut Freddy.

Dengan harapan, selama dua tahun, yang berhenti kerja punya inspirasi untuk kerja sambilan.

Sedang, menurut Eko, sebelum salah satu pasangan berhenti bekerja, minimal mesti memiliki tabungan sebesar enam kali pengeluaran baru. “Bukan pengeluaran saat keduanya bekerja, ya. Tapi, pengeluaran setelah salah satu tidak bekerja,” jelasnya.

  • Aset

Ada baiknya juga, Freddy menyatakan, sebelum berhenti kerja, Anda sudah harus punya rumah. Jangan sampai masih mencicil rumah ketika salah satu telah mengundurkan diri.

Tapi, kalau sedang mengangsur rumah, pastikan yang bertahan bekerja bukan hanya bisa memenuhi kebutuhan, dapat membayar cicilan bulanan.

Hanya, dalam kacamata Eko, tidak ada keharusan sudah mempunyai rumah ketika salah satu pasangan ingin berhenti bekerja. Meski begitu, dengan memiliki aset sebelum kehilangan sebagian potensi penghasilan, tentu lebih bagus.

Memang, sih, banyak kerugian setelah salah satu pasangan tak lagi bekerja. Tapi, Eko bilang, banyak juga, lo, keuntungannya. Ya, paling tidak:

Pertama, harmonisasi keluarga khususnya dengan anak-anak akan makin baik.

Kedua, dengan dana terbatas, Anda akan lebih pintar dalam pengelolaan keuangan.

Ketiga, biasanya juga jadi pintar dalam berinvestasi. Soalnya, dengan anggaran lebih kecil yang bisa disisihkan, Anda harus bisa mencapai tujuan keuangan yang tidak berubah.

“Misalnya, bisnis online, trading saham, atau investasi dan bisnis lainnya yang bisa dilakukan di rumah,” ungkap Eko.

Siap mengundurkan diri?


Reporter Francisca Bertha Vistika
Editor S.S. Kurniawan

MENGELOLA GAJI

Feedback   ↑ x
Close [X]