: WIB    --   
indikator  I  

LDR boleh asal tetap bisa berinvestasi

LDR boleh asal tetap bisa berinvestasi

Bukan cuma mereka yang berstatus pacaran yang harus berhubungan jarak jauh dengan pasangannya alias long distance relationship (LDR). LDR juga dialami pasangan yang sudah menikah.

Rustanto, misalnya. Sudah tujuh tahun ia tinggal terpisah dengan sang istri dan anaknya. “Istri dan anak di Surabaya sedang saya di Bandarlampung,” kata pria 50 tahun ini.

Pekerjaan di salah satu bank yang membuat Rustanto tak bisa tinggal satu atap dengan Keluarganya. Jabatan yang terus naik memaksanya harus berpindah-pindah tempat kerja, dari satu cabang ke cabang lain di kota yang berbeda sesuai  penugasan kantor pusat.

Awalnya, Rustanto bekerja di Jakarta. Kemudian dia dipindahkan ke Banyuwangi, Jawa Timur. Setelah itu, ia harus rela ditempatkan di Surabaya.

Saat itu, anak dan istrinya masih diboyong setiap kali pindah. “Tapi, karena anak sudah akan masuk SMP, sejak 2010 saya dan istri memilih tinggal berjauhan, saya di Tangerang waktu itu,” ungkap Rustanto.

Tangerang bukan perhentian terakhir. Habis itu kota penempatan Rustanto adalah Palembang. Setelah kurang lebih tiga tahun di kota pempek, ia dipindah ke Bandarlampung hingga saat ini. “Istri yang datang tiap satu bulan sekali. Saya pulang tiga kali dalam setahun saja ke Surabaya,” ujar dia.

Jelas, biaya pulang pergi sang istri tidaklah murah lantaran terpisah pulau. Apalagi, dulu tidak ada penerbangan langsung dari Surabaya ke Palembang dan Lampung. Jadi, mesti transit dulu di Jakarta.

Rusanto bilang, sekali kunjungan ke Lampung, istrinya membutuhkan ongkos sekitar Rp 1,5 juta untuk tiket pesawat pulang pergi. Jika dikalikan 12 bulan, total biaya transportasi mencapai Rp 18 juta.

Itu baru sang istri yang pulang, belum saat Rustanto harus mengunjungi anak istrinya di Surabaya. “Saya memang sudah menyisihkan dari gaji dan bonus untuk biaya ini. Menurut saya, ini kebutuhan pokok, sama seperti kebutuhan pangan, jadi mesti didahulukan. Karena, Keluarga tidak bisa hanya berkomunikasi lewat telepon,” jelas Rusanto.

Untungnya, Rusanto mendapat rumah dinas di kota tempatnya bekerja. Listrik, air, dan telepon juga ditanggung perusahaan, meski ada batas maksimal pemakaian.

Kendaraan dinas beserta bahan bakarnya pun tak perlu dia pikirkan. Dengan begitu, ia bisa lebih menghemat dan mengalokasikan dananya untuk pulang kampung.

Kurangi frekuensi

Nasib Nina Amalia juga sama. Perempuan 28 tahun ini tinggal berjauhan dengan sang suami.

Semenjak menikah enam tahun yang lalu, ia sering tinggal berjauhan dengan suaminya. Kini, ia menetap di Surabaya sedang suaminya di Cikarang.

Kehamilan dan anak yang masih kecil jadi alasan Nina tak ikut suaminya. Awalnya, sang suami yang bekerja di sebuah badan usaha milik negera (BUMN) dipindahkan dari Surabaya ke Jakarta dan sekarang ditempatkan di Cikarang.

“Belum tahu kapan ikut suami. Mungkin kalau anak sudah agak besar,” kata Nina yang baru melahirkan anak kedua.

Lagipula, suaminya tidak akan lama lagi di Cikarang lantaran bakal dipindahkan ke daerah Kalimantan. Dan, Nina lebih merasa nyaman membesarkan anak-anaknya di Surabaya.

Biasanya, sang suami yang pulang ke Surabaya setiap dua minggu sekali. Sekali mengunjungi anak dan istri, suami Nina harus merogoh kocek Rp 1,5 juta–Rp 2 juta untuk ongkos pesawat pulang pergi plus taksi dari dan ke bandara.

“Uangnya memang sudah disisihkan tiap bulan. Cari tiket juga jauh-jauh hari supaya harganya murah,” kata dia.

Kalau tak sempat pulang, Nina, suami, dan anak-anaknya melakukan panggilan video (video call) via ponsel secara rutin. Selain menghemat, bisa menjaga komunikasi.

Menurut Pandji Harsanto, Perencana Keuangan Finansia Consulting, sebelum suami istri memutuskan melakukan LDR harus mempertimbangkan beberapa hal lebih dulu.

Pertama, jarak. Semakin jauh tentu akan semakin besar dana yang harus mereka keluarkan. Jadi, lebih baik salah satu pasangan kudu mengalah untuk ikut suami atawa istri.

Kedua, pekerjaan. Kalau keduanya sama-sama bekerja dan itu memang tidak bisa dilakukan di satu kota, ya, mau tidak mau memang harus LDR.

Agar bisa hemat meski harus mengunjungi pasangan secara rutin, frekuensi kunjungan mesti dikurangi. Biasanya pulang sebulan sekali, maka frekuensi kepulangan dikurangi tetapi menambah waktu di rumah.

Misal, sebelumnya pulang sebulan sekali tapi di rumah hanya Jumat, Sabtu, dan Minggu. “Lebih baik pulang dua bulan sekali tapi bisa ketemu seminggu  penuh. Itu, kan, bisa hemat ongkos,” imbuh Pandji.

Lalu, bila anak-anak sudah dewasa, biarlah mereka tetap tinggal di kota asal dengan meminta orangtua atau saudara mengawasi. “Kalau biaya pulang pergi sebulan Rp 4 juta, apa tidak lebih baik tinggal berdekatan dan mencari asisten rumahtangga digaji Rp 2 juta untuk anak,” saran Pandji.

Sekalian berbisnis

Jika alasan LDR lantaran rumah di kota asal akan sia-sia bila tidak ada yang menjaga dan merawat, Anda bisa menyewakan ke orang lain. Selain ada yang merawat, tentu pemasukan Anda akan bertambah.

Namun, jika tetap bersikeras untuk LDR, Pandji mengatakan, upaya penghematan bisa ditempuh dengan memanfaatkan kunjungan ke Keluarga untuk berbisnis.

Contoh, usai bertemu Keluarga, pulang ke kota tempat bekerja sambil membawa barang dagangan untuk dijual, atau sebaliknya. Keuntungan dari bisnis itu bisa buat tambah-tambah biaya transport.

Pandji tidak punya hitungan khusus, berapa persen maksimal biaya transportasi dari pendapatan bulanan untuk pasangan LDR. Yang jelas, masing-masing pasangan perlu pintar mengaturnya. “Tetap berinvestasi dan jangan sampai investasi itu hanya habis di jalan buat kunjungan,” pesannya.

Freddy Pieloor, Perencana Keuangan MoneynLove Planning & Consulting, mengingatkan, bagi yang memilih LDR, harus pintar-pintar menghitung cukup tidaknya pendapatan untuk ongkos transportasi mengunjungi pasangan.

Yang perlu dijawab oleh suami istri yang LDR adalah, apakah keuangannya sehat saat berjauhan? Apakah tetap ada sisa jika sebagian pendapatan digunakan untuk mengunjungi pasangan? Apakah dengan selisih itu masih bisa menabung?

“Kalau tidak ada selisih, lebih baik jangan tinggal berjauhan. Sayang sekali mengorbankan Keluarga untuk selisih gaji yang kecil,” tegas Freddy.

Untuk pasangan muda dengan anak yang masih bayi hingga duduk di bangku SD, sebaiknya tetap tinggal bersama. “Kalau sampai usia SD, kan, cari sekolah masih mudah. Lagipula lebih hemat tinggal berdampingan. Dan, anak usia segitu harus diasuh kedua orangtuanya,” kata Freddy.

Sedangkan bagi yang usianya sudah 45 ke atas dan sulit mencari pekerjaan lagi jika harus keluar dari pencaharian sekarang, LDR bisa jadi jalan yang baik. “Usia segitu anak-anak biasanya sudah SMP-SMA, agak susah kalau pindah-pindah sekolah,” ujar Freddy.

Jadi, pilih yang terbaik.


Reporter Francisca Bertha Vistika
Editor S.S. Kurniawan

ANGGARAN

Feedback   ↑ x
Close [X]