: WIB    —   
indikator  I  

Jika menjadi orangtua tunggal

Jika menjadi orangtua tunggal

Perceraian dan kematian adalah dua kejadian yang bisa membuat pasangan yang sudah menikah berubah status menjadi orangtua tunggal alias single parent. Status ini terasa berat disandang bila anak masih kecil-kecil.

Membesarkan anak-anak seorang diri jelas bukan perkara yang gampang, termasuk dari sisi keuangan. Perpisahan itu terutama bagi para ibu membuat mereka mesti kehilangan pemberi nafkah utama.

Wahyu Widoretno, contohnya. Ibu dua anak ini kehilangan sang suami saat usianya 38 tahun. Kedua anaknya ketika itu terbilang masih kecil. Anak tertua perempuan yang kini berumur 51 tahun ini saat itu duduk di bangku SMP, sedangkan anak keduanya masih SD.

Waktu itu, suami Retno, panggilan sehari-hari Wahyu Widoretno, bekerja menjadi karyawan swasta, sementara dia berprofesi sebagai guru di Jawa Tengah. Dengan begitu, ada dua sumber penghasilan yang digunakan untuk menghidupi keluarga Retno.

Tapi, ketika suaminya meninggal dunia, Retno harus banting tulang demi bisa menghidupi dan menyekolahkan kedua putrinya. “Suami saya hanya meninggalkan asuransi jiwa. Bagi orang lain, mungkin tidak banyak. Tapi buat saya, jumlahnya cukup untuk biaya sekolah anak-anak,” ungkapnya.

Selain biaya sekolah, uang pertanggungan dari asuransi jiwa itu Retno juga gunakan untuk keperluan sehari-hari. Namun tetap saja, ia harus bekerja ekstra lantaran kebutuhan anak-anaknya bukan biaya sekolah saja. Ia kudu menyiapkan uang jajan, transportasi, dan lainnya untuk menunjang pendidikan buah hatinya.

Demi bisa menyekolahkan kedua putrinya hingga bangku kuliah, Retno pun harus banting tulang dan mencari pendapatan tambahan, dengan memanfaatkan hobi memasaknya. Ia kerap menerima pesanan makanan. “Uang hasil sampingan itu lumayan untuk transpor saya dan anak-anak,” ujarnya.

Retno tak mendapat bantuan dana dari sanak saudaranya. Namun dengan kegigihannya, ia berhasil mengantarkan anak pertamanya jadi sarjana. Sedang anak keduanya masih menuntut ilmu di salah satu universitas di Yogyakarta.

Di tengah kekurangan dana, Retno juga terpaksa berutang. “Tapi, utangnya ke koperasi tempat saya bekerja saja. Ya, ketika itu untuk gali lubang tutup lubang,” kenang dia.

Sebagai orangtua tunggal, kebahagiaan anak-anak nomor satu. Sehingga, Retno betul-betul bekerja keras untuk bisa memenuhi keperluan anaknya dan mengesampingkan kebutuhan pribadinya. 

Jika memang terpaksa meminjam uang demi anak-anak atau kebutuhan mendesak lainnya, pinjam sesuai kemampuan. “Mencicilnya sesuai kemampuan menyisihkan dana,” imbuhnya.

Punya asuransi

Berbeda sama Retno, Tike berpisah dengan suaminya lantaran ketidakcocokan. Ia sudah jadi orangtua tunggal sejak 1995 silam, saat anak semata wayangnya berusia 4 tahun.

Tike bilang, semenjak bercerai, sang suami tak memberikan bantuan untuk pendidikan maupun kebutuhan lain bagi anaknya. Sang anak yang kini sukses merupakan hasil jerih payahnya seorang diri. 

“Sebelum menikah saya bekerja. Begitu punya anak, suami saja yang bekerja. Jadi, ketika berpisah saya harus cari kerjaan lagi buat menghidupi anak,” ucapnya.

Pasca menjadi orangtua tunggal, Tike kembali bekerja bahkan merantau dari Surabaya ke Jakarta. Sang anak ia titipkan di rumah sanak saudaranya di kota pahlawan. 

“Karena baru awal merintis karier dan masih beradaptasi, saya ke Jakarta sendiri dan anak saya disekolahkan oleh tante saya di Surabaya,” kenang Tike yang sekarang berumur 52 tahun.

Awalnya, Tike bekerja serabutan asal halal. Mulai jadi agen asuransi, agen properti, dan jualan beberapa produk mode. 

Baru pada 2000, ia mendapat pekerjaan yang dirasa cukup layak yakni sekretaris sampai sekarang. Untuk menambah penghasilan, dia juga berjualan beberapa produk mode ke teman-teman kantornya.

Begitu anaknya duduk di bangku SMA, Tike memboyongnya ke Jakarta. Ia mengaku harus berusaha dari nol lagi. “Saya harus mengontrak rumah baru lagi. Bekerja lebih keras lagi karena sudah tidak dibantu oleh tante,” kata Tike.

Di samping selalu menyisihkan uang untuk tabungan pendidikan anaknya, Tike mengajari sang buah hati untuk tetap hemat meski keuangannya saat itu sudah mulai membaik. Ia juga mengajari anaknya berbisnis, dengan jualan pulsa ke teman-teman.

Yang penting buat orangtua tunggal, menurut Tike, adalah harus bisa cari penghasilan tambahan lain di samping dari pekerjaan utama. Meski harus memulai dari nol, jangan mudah menyerah. 

Tak lupa, ia berpesan, agar membeli asuransi jiwa dan asuransi dana pensiun. “Semuanya demi anak. Kalau ada apa-apa dengan saya, uangnya bisa buat anak,” kata Tike yang ikut asuransi jiwa dan asuransi dana pensiun sekaligus.

Investasi warisan

Sebetulnya, Tejasari, Perencana Keuangan Tatadana Consulting, mengatakan, menjadi orangtua tunggal atau orangtua utuh tetapi hanya salah satu yang bekerja, maka kondisi keuangannya sama saja. Sebab, sumbernya hanya satu.

Perbedaannya: lebih ke tekanan mental yang lebih tinggi jika jadi orangtua tunggal. “Kalau masih bersama, pasangan bisa bantu kerja sampingan. Kalau orangtua tunggal, sampingan pun harus dikerjakan sendiri,” kata Tejasari.

Menjadi orangtua tunggal karena pasangan meninggal atau perceraian, biasanya ada yang mendapat warisan berupa uang pertanggungan asuransi atau harta lainnya. Sebaiknya, Tejasari menyarankan, uang itu diputar. 

“Harta itu dikelola dengan baik. Bisa diinvestasikan atau dibelikan properti atau dibelikan aset aktif. Bukan ditaruh saja di tabungan lalu sering diambil,” saran Tejasari. 

Kalau tak mendapat peninggalan apapun, baik dari asuransi maupun harta gono-gini, tentu beban tanggungan kian berat bagi si orangtua tunggal. 

Tapi sebenarnya, menurut Tejasari, mau dapat atau tidak “warisan”, orangtua tunggal harus bekerja untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Hanya, jika memperoleh peninggalan, uangnya mesti diinvestasikan.

Selain itu, orangtua tunggal harus mengatur arus kas dengan baik. Gaya hidup kudu disesuaikan dengan status baru. Jangan bekerja keras untuk memenuhi gaya hidup seperti ketika keluarganya masih utuh, justru mesti berhemat.

Kalau ternyata berhasil mengubah gaya hidup tapi dana masih belum cukup, orangtua tunggal harus cari penghasilan tambahan sekreatif mungkin. “Jangan lupa punya asuransi jiwa karena anak tidak memiliki siapa-siapa lagi jika ternyata orangtua satu-satunya meninggal dunia,” kata Tejasari.

Senada, Budi Raharjo, Perencana Keuangan Oneshildt, menuturkan, orangtua tunggal memang harus cermat dalam mengelola keuangan, gaya hidup, dan harta warisan, agar tidak cepat habis. 

Juga mesti menjadikan harta warisan sebagai aset produktif yang bisa menghasilkan. “Harus belajar untuk memaksimalkan penghasilan dari keahlian dan pengetahuan pribadi,” katanya.

Jika mesti kembali ke orangtua untuk menghemat pengeluaran selama belum dapat penghasilan baru, lakukan saja. “Menekan pengeluaran demi kelangsungan dan jaminan pendidikan serta kehidupan anak jadi prioritas,” tegas Budi.


Reporter Francisca Bertha Vistika
Editor S.S. Kurniawan

ORANGTUA TUNGGAL

Feedback   ↑ x
Close [X]