KONTAN.CO.ID - Memasuki akhir Januari 2026, instrumen surat utang atau obligasi tetap menjadi primadona bagi investor yang menginginkan stabilitas di tengah dinamika pasar keuangan.
Obligasi menawarkan alternatif investasi yang relatif lebih aman dibandingkan saham, namun dengan potensi imbal hasil yang lebih menarik daripada sekadar menempatkan dana di deposito perbankan konvensional.
Secara definisi, obligasi merupakan surat pernyataan utang jangka menengah atau panjang yang diterbitkan oleh institusi pemerintah maupun korporasi kepada pemegang obligasi.
Baca Juga: Strategi Investasi Milenial 2026: 5 Aset Aman Mulai dari Modal Kecil
Dalam skema ini, penerbit obligasi berkewajiban membayar bunga secara periodik yang dikenal dengan istilah kupon, serta melunasi pokok utang pada saat jatuh tempo yang telah disepakati.
Bagi investor pemula, memahami mekanisme obligasi merupakan langkah awal yang krusial untuk melakukan diversifikasi portofolio. Instrumen ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber pendapatan tetap, tetapi juga sebagai jaring pengaman aset ketika pasar saham mengalami fluktuasi yang tinggi.
Jenis-Jenis Obligasi di Pasar Keuangan Indonesia
Di pasar modal Indonesia, terdapat beberapa jenis obligasi yang dapat dipilih oleh investor berdasarkan profil risiko dan tujuan keuangannya.
Pembagian ini umumnya didasarkan pada siapa pihak yang menerbitkan surat utang tersebut.
Melansir informasi dari laman Mandiri Sekuritas, terdapat dua kategori utama obligasi yang sering diperdagangkan:
- Obligasi Pemerintah: Surat utang yang diterbitkan oleh negara, seperti Obligasi Negara Ritel (ORI), Sukuk Ritel (SR), dan Saving Bond Ritel (SBR). Instrumen ini dinilai paling aman karena pembayaran pokok dan bunganya dijamin oleh undang-undang.
- Obligasi Korporasi: Surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan, baik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun perusahaan swasta. Biasanya, obligasi ini menawarkan kupon yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko yang sedikit lebih besar dibandingkan obligasi pemerintah.
Investor juga perlu mengenal obligasi berdasarkan pembayaran bunga, yakni obligasi dengan kupon tetap (fixed rate) dan obligasi dengan bunga mengambang (floating rate) yang biasanya memiliki batas minimal (floor).
Baca Juga: Keuangan Pribadi Bocor? Hindari Defisit dengan 6 Trik Anggaran Ini
Keuntungan Utama Berinvestasi pada Obligasi
Daya tarik utama obligasi terletak pada kepastian pendapatan yang diterima oleh investor. Berbeda dengan dividen saham yang jumlahnya bisa berubah tergantung kinerja perusahaan, nilai kupon obligasi sudah ditetapkan sejak awal masa penawaran.
Dilansir dari AXA Mandiri, salah satu keuntungan utama obligasi adalah pemegang obligasi akan mendapatkan bunga atau kupon secara berkala, yang biasanya dibayarkan setiap bulan atau setiap tiga bulan sekali.
Selain itu, obligasi juga memberikan potensi keuntungan dari selisih harga jual atau capital gain jika investor menjualnya di pasar sekunder sebelum masa jatuh tempo.
Berikut adalah beberapa keunggulan lain yang perlu diketahui:
- Keamanan Modal: Terutama pada obligasi pemerintah, risiko gagal bayar hampir tidak ada karena dijamin oleh negara.
- Imbal Hasil Kompetitif: Nilai kupon biasanya berada di atas tingkat inflasi dan rata-rata bunga deposito perbankan.
- Diversifikasi Risiko: Menjaga keseimbangan nilai aset saat instrumen investasi lain seperti saham sedang mengalami tren penurunan.
Risiko yang Perlu Diwaspadai Investor
Meski dikenal aman, investasi obligasi tetap memiliki risiko yang harus dipahami secara saksama. Pemahaman terhadap risiko ini membantu investor dalam mengambil keputusan yang lebih objektif.
Bersumber dari penjelasan Mandiri Sekuritas, terdapat risiko gagal bayar yang mungkin terjadi jika penerbit obligasi tidak mampu membayar bunga atau pokok utang tepat waktu.
Risiko ini umumnya lebih relevan pada obligasi korporasi, sehingga investor disarankan untuk memeriksa peringkat kredit (rating) perusahaan yang diterbitkan oleh lembaga pemeringkat seperti Pefindo.
Tonton: Bubur Kendil Surya Kencana, Rasanya Bikin Nagih
Selain itu, terdapat risiko pasar di mana harga obligasi akan turun apabila suku bunga acuan mengalami kenaikan.
Investor juga perlu memperhatikan risiko likuiditas, yaitu kondisi di mana obligasi sulit untuk dijual kembali di pasar sekunder secara cepat dengan harga yang wajar.
Langkah Awal Memulai Investasi Obligasi
Bagi pemula yang ingin mulai mengalokasikan dananya pada instrumen ini di tahun 2026, terdapat beberapa tahapan teknis yang harus dilakukan:
- Membuka Rekening Efek: Calon investor wajib memiliki rekening di perusahaan sekuritas atau bank yang bertindak sebagai agen penjual resmi.
- Menyiapkan Dana: Investasi pada SBN ritel kini sudah sangat terjangkau, biasanya dapat dimulai dari nominal Rp 1.000.000.
- Mempelajari Prospektus: Baca dengan saksama profil penerbit, tingkat bunga yang ditawarkan, tenor atau jangka waktu, hingga tanggal jatuh tempo.
- Melakukan Pembelian: Transaksi dapat dilakukan secara daring melalui platform investasi yang telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Pemilihan obligasi yang tepat harus disesuaikan dengan jangka waktu kebutuhan keuangan investor. Jika dana tersebut direncanakan untuk kebutuhan dua tahun ke depan, maka pilihlah obligasi dengan tenor yang sejalan.
Investasi obligasi di tahun 2026 tetap menjadi pilar penting bagi setiap strategi perencanaan keuangan. Dengan pemahaman yang baik mengenai karakteristik instrumen ini, investor pemula dapat mengoptimalkan pertumbuhan kekayaan mereka sambil tetap menjaga profil risiko yang terkendali.
Selanjutnya: Bos Bursa Saham NYSE Ungkap Rahasia Sukses: Kurasi Ide dan Rekrut Orang Pintar
Menarik Dibaca: Harga Emas Antam Sabtu 31 Januari 2026 Turun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News