Tips Mengelola Keuangan Buat Mahasiswa Biar Uang Bulanan Tidak Cepat Habis

Rabu, 17 Agustus 2022 | 15:45 WIB   Penulis: Tiyas Septiana
Tips Mengelola Keuangan Buat Mahasiswa Biar Uang Bulanan Tidak Cepat Habis

ILUSTRASI. Tips Mengelola Keuangan Buat Mahasiswa Biar Uang Bulanan Tidak Cepat Habis.


KONTAN.CO.ID - Jakarta. Tidak sedikit mahasiswa, khususnya yang merantau untuk melanjutkan pendidikan, sering kehabisan uang bulanan yang dikirimkan oleh orangtua meskipun masih tengah atau bahkan awal bulan. 

Hal ini dikarenakan masih banyak mahasiswa yang kesulitan membedakan antara kebutuhan dan keinginan sehingga menyebabkan pengeluaran menjadi tak terkendali. 

Martha Ranggi Primanthi, Dosen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair), membagikan tips tentang cara mengelola pengeluaran untuk mahasiswa.

Menurutnya, hal pertama yang mudah dan harus dilakukan adalah membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Baca Juga: Sejarah Singkat Lagu Indonesia Raya, Lagu Kebangsaan yang Sempat DIlarang Penjajah

Apabila kita tidak membeli sesuatu, tapi kehidupan kita masih berjalan lancar dan aman tanpa hambatan, maka itu berarti keinginan, bukan kebutuhan. 

“Karena kalau kebutuhan tidak dipenuhi, kehidupan kita jadi jadi buruk atau worst off. Cara membedakannya as simple as that,” ungkapnya seperti dikutip dari situs Unair.

Tips yang pas untuk mahasiswa dalam mengelola keuangan dari dosen FEB Unair sebagai berikut ini. 

Mengurangi social cost

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair tersebut memiliki pengalaman menjalani kuliah S1 3,5 tahun di Unair. Kemudian melanjutkan studi S2 dan S3 di luar negeri. 

“Saya melihat sebetulnya di Indonesia ketika saya sebagai mahasiswa, biaya yang cukup besar mempengaruhi biaya hidup adalah social cost,” jelasnya.

Menurutnya, social cost di indonesia tergolong sangat tinggi karena budaya yang terbentuk di lingkungan sekitar.  

Social cost adalah biaya yang dikeluarkan untuk memenuhi gengsi atau gaya hidup yang terjadi di lingkungan sosial.

“Mahasiswa merupakan anak muda yang gairahnya masih tinggi sehingga memiliki gengsi yang tinggi pula. Kalau tidak memiliki produk terkini, khawatir tidak punya teman dan takut tidak diakui oleh lingkungan,” jelasnya. 

Tidak fokus dengan persepsi orang lain

Saat dirinya kuliah di Australia lingkungan sekitar tidak mempedulikan apa yang dia pakai. Mereka tidak pernah menilai orang dari casing-nya. Hal ini sebenarnya masih ada pro kontra di masyarakat. 

“Orang bule kan terkenalnya sangat cuek, pronya di situ sih kita gak peduli orang punya tas ini tas itu, ya don’t really care,” ungkap alumnus Australian National University itu.

Banyak profesor di kampus Martha yang hanya memakai sepeda ontel yang tidak mahal ke kampus. Padahal mereka sebenarnya mempunyai mobil mewah di rumahnya. 

“Karena ya, budaya sana tidak memperhatikan other people’s perception,”  ungkapnya.

Baca Juga: Pentingnya Peran Pendidikan pada Masa Politik Etis dalam Meraih Kemerdekaan Indonesia

Lain halnya di Indonesia, dimana persepsi orang masih menjadi determinan untuk menjalani hidup. Jadi, sebenarnya yang membuat biaya anak muda dan mahasiswa tidak terkontrol adalah biaya sosial. 

“Balik lagi ke konsep keinginan atau kebutuhan. Kalau mereka tidak makan di coffee shop mahal apakah akan worst off,” ungkapnya.

Menurutnya, tips bagi mahasiswa adalah tidak perlu terlalu peduli dengan persepsi orang. Yang terpenting adalah menjadi pribadi yang baik.  

“Baik diukur dari kata, sikap, bukan dari barang apa yang kita punya,” tuturnya.

Pada akhir, Martha berharap mahasiswa bisa memanfaatkan kemajuan teknologi untuk bisa lebih bermanfaat dan menjadi berkat untuk banyak orang di sekitarnya. 

Manfaatkan segala kesempatan yang ada, baik itu kesempatan entrepreneur, kesempatan ke luar negeri, dan lain sebagainya. 

“Itu harus dimanfaatkan untuk menjadi orang baik dan benar,” sarannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tiyas Septiana

Terbaru