: WIB    —   
indikator  I  

Bukan dukun, jadi perlu evaluasi keuangan

Bukan dukun, jadi perlu evaluasi keuangan

Setengah tahun  2017 baru saja berlalu. Nah, menginjak paro kedua tahun ini, waktu yang tepat buat melakukan refleksi terhadap pencapaian selama enam bulan pertama. Termasuk, mengevaluasi keuangan keluarga Anda.

Apalagi, Budi Raharjo, Perencana Keuangan OneShildt Personal Financial Planning, bilang, momentumnya semakin pas lantaran usai Lebaran dan membayar biaya pendidikan anak di tahun ajaran baru.

Budi memperkirakan, pengeluaran sebagian keluarga di semester satu tahun ini terbilang banyak. Maklum, selain Hari Raya Idul Fitri jatuh di paruh pertama 2017, sepanjang Januari hingga Juni lalu banyak libur panjang akhir pekan alias long weekend. Bahkan, selama April saja ada tiga long weekend.

Banyak libur panjang di semester satu tahun ini bisa memengaruhi keuangan keluarga. Sebab, tak sedikit keluarga yang memanfaatkannya untuk pelesiran.

Alhasil, misalnya, jatah liburan tahun ini tiga kali, kuota tersebut sudah habis di paro pertama. “Jadi pengeluarannya banyak,” kata Budi.

Karena itu, Pandji Harsanto, Perencana Keuangan Finansia Consulting, menegaskan, melakukan evaluasi keuangan keluarga di semester satu sangat penting. Tujuannya, supaya bisa melihat lagi kondisi keuangan sepanjang enam bulan pertama. Ini juga untuk memastikan tidak ada yang terlewat.

Pertama-tama, melihat lagi rasio keuangan Anda dibandingkan dengan posisi di awal tahun, seperti rasio utang terhadap aset. “Namanya perencanaan keuangan, kan, bukan dukun. Kalau enggak lihat rasionya Anda tidak tahu seperti apa kondisinya,” ucap Pandji.

Di awal tahun, tentu Anda juga membuat perencanaan keuangan. Contohnya, menyiapkan biaya liburan akhir tahun bersama keluarga sejak Januari.

Nah, apakah rencana keuangan ini sudah Anda jalankan? Untuk itu, Anda perlu melakukan evaluasi di tengah tahun.

Memang, menurut Tejasari, Perencana Keuangan Tatadana Consulting, biasanya evaluasi keuangan keluarga dilakukan setahun sekali di akhir tahun. Tapi, ada baiknya evaluasi setiap enam bulan.

Soalnya, “Di akhir tahun kelamaan, enggak ada pengingat. Sedang dari hasil evaluasi di tengah tahun, bisa dikejar di semester kedua yang belum tercapai,” ujar dia.

Tidak sehat

Dengan melakukan evaluasi, Budi menambahkan, Anda juga bisa mengetahui, apakah keuangan keluarga selama semester pertama sehat atau tidak. Nah, tanda-tanda keuangan Anda tidak sehat yakni:

Pertama, arus kas (cash flow) ternyata negatif. Peribahasa bilang: besar pasak daripada tiang. Pengeluaran Anda lebih besar dari pemasukan. 

Kedua, tabungan Anda berkurang atau utang bertambah. Kalau kedua-duanya terjadi, itu berarti lampu merah buat keuangan keluarga Anda. “Hasil evaluasi menjadi bayangan Anda di semester berikutnya, apakah harus menata lagi keuangan,” imbuh Budi.

Sebagai pedoman dalam melakukan evaluasi keuangan di tengah tahun, setidaknya ada lima pos yang sebaiknya Anda lihat. Berikut pos-pos itu:

  • Arus kas

Sejatinya, Budi mengatakan, evaluasi terhadap arus kas setiap akhir bulan. Tapi, enggak ada salahnya melakukan itu secara menyeluruh di tengah tahun. Terutama, untuk melihat pengeluaran-pengeluaran selama semester pertama.

Sebab, itu tadi, banyak long weekend di paro satu tahun ini. Hari Raya Idul Fitri pun jatuh di semester satu, persisnya akhir Juni.

Di bulan yang sama, juga waktunya membayar biaya pendidikan anak di tahun ajaran baru, mulai pendaftaran siswa anyar hingga daftar ulang sekolah. “Pengeluaran lebih besar tidak? Kalau defisit, harus segera ditutup,” kata Budi.

  • Rencana keuangan

Anda perlu mengevaluasi rencana keuangan yang dibuat di awal tahun, apakah sudah dijalankan atau belum? Jika telah dilakoni, apakah rencana keuangan yang Anda susun sudah tercapai atau belum?

Bila ada tujuan keuangan yang belum tercapai, kira-kira apa penyebabnya? Apakah lantaran tidak ada sumber dana untuk memenuhi rencana keuangan itu? Atau, ada kejadian lain yang mengganggu pencapaian rencana tersebut.

Tejasari mencontohkan, berinvestasi rutin setiap bulan. Biasanya yang terjadi, dia mengungkapkan, orang yang baru mulai berinvestasi suka menunda-nunda melakukannya.

Yang sudah berinvestasi pun kadang tidak rutin mengisi rekeningnya. “Khususnya yang menggunakan sistem reguler, transfer tiap bulan, bukan otomatis potong dari rekening tabungan. Mereka kadang bolong,” ungkap Tejasari.

Alasannya  macam-macam. Contoh, uangnya dipakai dulu buat kebutuhan lain.

Rencananya, pas mendapat tunjangan hari raya (THR), sebagian uangnya untuk menutup dana investasi rutin bulanan yang bolong-bolong. Eh tapi, begitu THR turun, duitnya masih digunakan untuk membiayai keperluan lain seperti uang daftar ulang sekolah anak.

Dengan melakukan evaluasi rencana keuangan di tengah tahun, investasi rutin bulanan yang masih bolong-bolong bisa ketahuan. “Kalau jauh-jauh hari sudah disadari, semakin cepat untuk ditutup,” ujar Tejasari. Tentu, kali ini harus betul-betul disiplin menambalnya.

Caranya, dengan merevisi angka dan investasi rutin bulanan. Misal, biasanya sebesar Rp 500.000 per bulan menjadi Rp 750.000 sebulan. Ini dilakukan sampai yang bolong tertutup semua dengan rapat.

  • Dana darurat

Berikutnya adalah mengecek dana darurat. Mungkin ada anggota keluarga yang sakit sehingga harus menggunakan pos keuangan ini. “Kalau dana darurat terpakai, maka perlu segera ditambah,” kata Tejasari.

Pos dana darurat dalam keuangan keluarga jadi solusi untuk kebutuhan yang tidak disangka-sangka, yang memerlukan penanggulangan segera. Kebutuhan mendesak ini umumnya bersifat musibah, seperti sakit, kecelakaan, serta kerusakan pada rumah. Dana cadangan itu perlu Anda tempatkan di rekening terpisah dari kebutuhan operasional.

Menurut Tejasari dan Budi, besaran dana darurat minimal tiga kali dari pengeluaran rutin bulanan. Sementara Pandji mengatakan, untuk amannya, dana darurat sekitar enam kali pengeluaran rutin bulanan.

  • Utang

Anda juga harus melihat posisi utang, apakah jumlahnya berkurang atau malah bertambah dengan adanya pinjaman baru. “Kalau tidak ada utang baru, itu berarti pengeluaran sudah bagus,” ujar Budi.

Tapi, Pandji menuturkan, jika utang bertambah untuk kebutuhan yang sifatnya produktif, itu tidak ada masalah. Tentu dengan catatan, besaran cicilannya ditambah dengan angsuran lama tidak lebih dari 30% dari penghasilan bulanan.

Kalau ternyata utang Anda membengkak dengan porsi cicilan mencaplok hingga 60% dari penghasilan bulanan, Pandji menyatakan, Anda kudu segera memangkas utang-utang konsumtif. Dana untuk melunasinya bisa dari THR atau bonus tengah tahun jika ada.

Utang-utang konsumtif yang menggelembung, misalnya, yang berasal dari tagihan kartu kredit, Tejasari meminta, untuk segera diselesaikan di semester kedua.

“Tutup utang supaya tidak makin numpuk, bisa dengan mencari tambahan pendapatan,” saran dia. Jadi, Anda perlu melunasi sebagian pinjaman tersebut hingga cicilan utang turun ke batas sehat.

  • Pembayaran wajib

Evaluasi keuangan atas pos pembayaran wajib juga mesti Anda lakukan di tengah tahun. Misalnya, premi asuransi tahunan, pajak kendaraan bermotor, serta pajak bumi dan bangunan (PBB). “Kadang-kadang suka kelupaan meski itu wajib,” kata Tejasari. Dan kalau lewat jatuh tempo, terkena denda.

Yang juga masuk pos pembayaran wajib adalah pajak penghasilan (PPh) di luar pendapatan rutin bulanan sebagai karyawan. Ambil contoh, penghasilan istri dari bisnis di rumah. “Sebaiknya, semua pembayaran pajak tahunan disiapkan di semester awal,” ujar Budi.

Selain kelima pos keuangan itu, Pandji menambahkan, yang tidak kalah penting adalah asuransi. Anda perlu melihat lagi asuransi yang dimiliki, apakah ada yang perlu diperbarui atau membeli premi baru.

Misalnya, asuransi kesehatan. Cukup dengan menjadi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan atau perlu menambah asuransi lagi.

Lalu, asuransi jiwa. Jika penghasilan bertambah, maka Anda perlu menambah besaran premi asuransi jiwa. “Bila penghasilan berkurang, premi bisa dikurangi,” ucap Pandji.

Asuransi jiwa adalah proteksi dari risiko-risiko yang mengintai dalam kehidupan. Contoh, risiko kematian pencari nafkah, kecelakaan, cacat permanen, dan sakit kritis. Asuransi jiwa memberi proteksi untuk nilai ekonomis seseorang yang diukur dari pendapatannya.

Jika risiko itu terjadi, maka bisa dipastikan ekonomi keluarga akan terganggu karena efek dari terhenti atau berkurangnya penghasilan. Jadi, alangkah bijak membeli asuransi jiwa berdasar uang pertanggungan yang dibutuhkan.

Bagaimana dengan portofolio investasi? Sebetulnya, menurut Pandji, mengevaluasi perkembangan portofolio investasi di pertengahan tahun.

Tapi, tidak masalah jika Anda ingin mengeceknya. “Yang sekarang bisa dilakukan, mengumpulkan data-data investasi untuk bisa di-review keseluruhan di akhir tahun nanti,” tambah Tejasari.

Dengan melakukan evaluasi di tengah tahun, perencanaan keuangan bisa tetap berada di jalur yang benar dan kondisi keuangan dapat terus sehat. Silakan Anda mengevaluasi.


Reporter Francisca Bertha Vistika
Editor S.S. Kurniawan

EVALUASI KEUANGAN

Feedback   ↑ x
Close [X]